Tampilkan postingan dengan label ACEHKINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACEHKINI. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 09, 2012

Kebanggaan dari Pucuk Bakau

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

PERTENGAHAN 2007 lalu, telepon genggam milik Azhar Idris tiba-tiba berdering. Di layar muncul nama Zubeidah Nasution. Staf komunikasi World Wide Fund (WWF) Aceh Programe itu membawa kabar gembira: Azhar terpilih sebagai pembawa obor Olimpiade 2008. Kabar ini membuat Azhar kebingungan. “Saya sama sekali tidak percaya,” kata Azhar saat dijumpai akhir Maret lalu. “Saya bilang ke orang WWF, tidak mungkin petani dan tak berpendidikan seperti saya membawa obor Olimpiade.”

Azhar memang tidak sedang bermimpi. Pada 22 April lalu Azhar menjadi bagian dari 80 pembawa Obor Olimpiade di Jakarta. Lelaki asal Desa Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, ini terpilih sebagai pembawa Obor Olimpiade Beijing karena kegigihannya melestarikan lingkungan di sekitar. Azhar Idris dipilih oleh WWF dan perusahaan minuman ringan Coca Cola Company, bersama Emil Salim (mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup), Nirina Zubir (duta WWF), Valerina Daniel (duta lingkungan), Tri Mumpuni (aktivis lingkungan), dan Nugie (artis).

Membawa Obor Olimpiade merupakan sebuah kebanggaan dan pengalaman berharga bagi pria berkulit legam ini. Apalagi, Obor Olimpiade baru tahun ini melintasi Indonesia. “Saya bangga sekali. Mungkin juga seluruh Aceh bangga. Ada putra Aceh yang bisa membawa obor Olimpiade setelah terkena musibah tsunami,” kata Azhar sambil memperlihatkan obor yang dibawanya di Gelora Bung Karno, Jakarta, 22 April silam.

Obor Olimpiade baru tahun ini pertama sekali singgah di Indonesia. Sebanyak 80 putra-putri Indonesia berkesempatan membawa obor mengelilingi Stadion Gelora Bung Karno Jakarta secara estafet. Azhar kebagian membawa sekitar 80 meter sebelum akhirnya menyerahkan api Olimpiade kepada peserta lain.

“Ini adalah kebanggan bagi masyarakat Aceh, karena saya bisa mengangkat harkat dan martabat Aceh di pentas nasional,” kata suami Nurbayani (34) ini.

Terpilihnya Azhar menjadi pembawa Obor Olimpiade bukan tanpa alasan. Saat seleksi, WWF mengajukan dua nama warga Aceh untuk dinominasikan sebagai pembawa obor Olimpiade. Menurut Zubeidah Nasution, staf komunikasi WWF, pihaknya mengajukan dua nominasi yaitu Azhar Idris dan seorang petani yang menaman pinus di atas lahan kritis seluas 30 hektar di Aceh Tengah.

“Pihak Coca Cola senang dengan Pak Azhar. Apalagi pascatsunami, susah mengampanyekan penghijauan kembali pesisir pantai yang rusak,” kata Zubaedah yang akrab disapa Ade ini.

Azhar memang pantas mewakili Aceh membawa api Olimpiade itu. Kegigihannya dalam merehabilitasi perkampungan yang hancur diamuk tsunami patut diacungi jempol. Azhar memilih menanam bakau untuk membangun kembali desa yang hancur dihumbalang gelombang gergasi. Saat korban tsunami lain sibuk mencari harta benda yang tersisa dari amukan tsunami, Azhar malah mencari biji bakau. Di antara puing-puing tsunami Azhar menyisir perkampungan, sembari berharap menemukan biji bakau.

Beruntung. Biji bakau itu disemai dan tumbuh besar. Azhar riang bukan kepalang. Bibit-bibit bakau itu kemudian ditanam di areal pertambakan yang mengelilingi desa. Mula-mula, hanya beberapa bakau saja yang ditanam Azhar. Namun secara perlahan, tanaman bakaunya tumbuh pesat di areal tambak warga seluas 35 hektar. Bakau yang ditanam Azhar pascatsunami sudah tumbuh besar. Ada yang sudah tingginya mencapai 2-3 meter. Ada juga yang usianya terhitung bulan, yang tingginya baru sekitar 20 sentimeter. Jika bertandang ke Desa Beuramoe melalui Lam Ujong, Anda akan disuguhi pemandangan ribuan bakau yang tertanam rapi di tengah-tengah tambak.

Tiga bulan pascatsunami, Azhar memutuskan untuk kembali ke kampung dari pengungsian di Desa Buengcala, Blang Bintang, Aceh Besar. Di perkampungan yang masih menyisakan kehancuran, Azhar memulai kehidupan baru. Hari-harinya diisi dengan mencari biji bakau dan melakukan pembibitan. Perlahan dia mengajak tetangganya untuk menanam tanaman yang bisa dijadikan benteng desa dari gempuran angin barat itu. Sayang, tak banyak yang tertarik dengan ajakan Azhar. Maklum, saat itu korban tsunami lebih tertarik dengan program cash for work yang didanai Mercy Corps untuk membersihkan desa dari puing tsunami.

“Kesempatan (kembali ke kampung) ini tidak saya sia-siakan. Saya langsung mencari biki bakau untuk disemai. Namun saya tidak punya uang,” ujarnya.

Ketiadaan dana tidak menyurutkan niatnya untuk membentengi kampung dengan tanaman mangrove itu. “Kesulitan dana saya utarakan kepada teman. Dia bersedia membantu bikin polibeg untuk penyemaian,” lanjutnya. Usaha Azhar tidak sia-sia. Dalam waktu dekat dia mampu menyemai hingga 30 ribu biji bakau.

Di tengah kesulitan modal itu, Azhar bertemu dengan Eko Budi Priyanto. Pekerja di Wet Lands International itu sedang mencari orang untuk diajak menanam bakau. Gayung bersambut, Azhar mengamini ajakan Wet Lands. Menurut Azhar, Eko sempat mengira dirinya mengalami guncangan jiwa pascabencana yang menghancurkan rumahnya.

Setelah deal dengan Wet Lands, Azhar mencari temannya yang mau diajak menanam bakau. Mereka lalu membentuk kelompok tani bakau. Syarat yang diberikan Wet Lands saat mengucurkan modal usaha terbilang ketat. Menurut Azhar, Wet Lands akan menarik kembali modal jika bakau yang mereka tanam mati. “Kalau bakaunya tumbuh, kami tidak harus mengembalikan modal,” kata dia. “Alhamdulillah, sekarang bakau saya sudah hidup sekitar 80 persen.”

Selain ditanam di areal pertambakan warga di Desa Lam Ujong, Azhar dan kelompoknya menjual bibit bakau ke sejumlah daerah, seperti Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Jaya, dan Aceh Timur. “Satu pohon harganya Rp 1.000. Harga itu sudah termasuk ongkos pengiriman,” kata dia.

Bagi Azhar bakau bukan dunia baru. Jauh sebelum tsunami, Azhar sudah berkutat dengan dunia bakau. Saban hari dia menyemai bakau, yang kemudian ditanam di pinggiran tambak. Keinginan Azhar menanam bakau dikarenakan desanya berdekatan dengan laut, selain dikelilingi sungai. Layaknya desa berdekatan dengan laut, angin di musim barat cukup membuat repot. “Pohon bakau ini bisa menghambat angin barat,” kata pria kelahiran 1 Juli, 43 tahun silam itu.

Tak hanya itu, bakau punya banyak kegunaan. Batang bisa digunakan sebagai material bangunan, ranting bisa jadi kayu bakar. Sementara daun yang berguguran bisa menjadi pupuk dan menjadi makanan ikan di tambak. Masih ada lagi. Akar yang kokoh tertancap di tanah bisa menghambat abrasi. “Pohon ini banyak manfaatnya,” sebutnya.

Pengalaman mengelola bakau pascatsunami membuat Azhar semakin matang. Azhar tak hanya dikenal sebagai petani bakau di Lam Ujong, tapi dia sudah malang-melintang di dunia bakau. Dia kerap menerima undangan untuk berbagi pengalaman menanam bakau. Awal Mei lalu saat ACEHKINI bertandang ke rumahnya, Azhar baru saja kembali dari Kembang Tanjung Pidie. “Saya disuruh membagi pengalaman bagi petani bakau di sana,” ujarnya ramah. “Tapi jangan suruh saya jadi pemateri, karena saya tidak bisa menyampaikan apa-apa. Saya hanya bisa di lapangan.”

Kini bakau sudah menjadi teman kesehariannya. Dan dari ujung bakau pula, Azhar mendunia: menjadi pembawa Obor Olimpiade. “Saya tidak pernah bermimpi bisa membawa obor ini, apalagi saya petani yang tidak berpendidikan,” katanya merendah. [a]

Selasa, Desember 21, 2010

Dan Hasilnya Adalah....

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
(radzie@acehkini.co.id)

Tes DNA menunjukkan bahwa Tarmizi dan Suryani bukan orangtua Riko Anggara. Namun, Suryani bersikukuh. Mereka meminta tes DNA diulang.

SURYANI tak sabar menunggu hasil tes DNA. Berkali-kali dia menelepon Anwar Yusuf Ajad menanyakan hasil tes yang dilakukan pertengahan Juli lalu. Lagi-lagi, upaya yang ditempuh Suryani dan suaminya, Tarmizi, tak membuahkan hasil. Tes DNA yang dilakukan untuk menelusuri jati diri Riko Anggara –bocah yang melejit namanya melalui kontes Idola Cilik di RCTI, sejatinya sudah keluar hasilnya pada 8 Agustus silam.
Suryani dan Tarmizi galau. Mereka tak sabar mengetahui hasil akhir pencarian anak mereka yang hilang dalam bencana tsunami empat tahun silam. Berkali-kali pula, Suryani menghubungi Anwar dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Aceh. Tetap saja, Anwar tak kunjung memberitahu hasilnya. Hingga pada medio September lalu, Suryani dan Tarmizi menyambangi kantor KPAID di bilangan Nyak Makam Lambhuk. Nah, di markas KPAID inilah, Anwar akhirnya buka kartu.

Anwar menyodorkan tiga lembar hasil tes DNA yang ditandatangani Dr. Djaja Surya Atmadja, SpF., PhD., SH, DFM dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hasil tes DNA itu menyebutkan bahwa Tarmizi dan Suryani bukan orangtua biologis Riko Anggara. Selama ini, Tarmizi dan Suryani menganggap bahwa Riko merupakan Rahmat Yani, anak mereka yang hilang saat tsunami menghumbalang Aceh empat tahun silam.

Hasil tes itu tak serta merta membuat Tarmizi dan Suryani lega. “Saya masih yakin bahwa Riko itu anak saya,” kata Suryani kepada ACEHKINI usai mengetahui hasil tes DNA, medio September lalu.

Pemeriksaan kecocokan kode genetis ini adalah babak lanjutan dari upaya Tarmizi – Suryani untuk membuktikan siapa Riko sebenarnya. Sebelumnya, Mei silam, mereka bertemu Riko di studio RCTI.

Meski saat itu Riko mengaku bukan anak Aceh, pasangan suami istri asal Neuheun, Aceh Besar, ini menyakini bocah itu adalah anak mereka: Rahmat. Selain kemiripan wajah, tanda luka di tubuh Riko sama persis dengan Rahmat.

Namun, tes kecocokan kode genetis yang dilakukan pada medio Juli itu menunjukkan bahwa Suryani dan Tarmiz sama sekali bukan orangtua kandung Riko Anggara, bocah berusia 12 tahun. Dalam pemeriksaan DNA itu, Dr Djaja memeriksa 10 lokus (daerah) Short Tandem Repeats (STR) yang berbeda dalam DNA manusia. Jadi, baik Tarmizi, Suryani, maupun Riko Anggara diambil sampel darah dan lendir di mulut bagian dalam untuk dites DNA.

Tes terhadap DNA Tarmizi Abdurrahman dan Riko Anggara menunjukkan ada tiga lokus yang sama sekali berbeda atau negatif (eksklusi). Sementara tujuh lokus lagi sesuai. Tiga lokus yang tidak sesuai adalah FGA, vWA, dan D7S820. Sementara pada Suryani, yang diduga sebagai ibu Riko Anggara, menunjukkan ada tujuh lokus yang tidak sesuai. Hanya lokus vWA, D5S818, dan TPOX saja yang sesuai dengan lokus DNA-nya Riko Anggara.

Dr Djaja Surya Atmadja mengatakan, seorang pria benar ayah dari seorang anak jika pada setiap lokus DNA yang diperiksa ditemukan keadaan sesuai, yaitu keadaan di mana satu ZDNA anak sama (identik) dengan salah satu DNA pria tersebut. Namun, seorang pria yang bukan ayah biologis dari seorang anak jika ditemukan dua lokus DNA atau lebih dalam keadaan Ekskusi. Ekskusi adalah tidak ada satupun DNA anak yang identik dengan salah satu DNA sang ayah.

Begitu juga dengan hasil tes DNA Suryani. Dalam tes itu menunjukkan bahwa banyak lokus yang bersifat eksklusi. Hanya tiga saja lokus antara Suryani dan Riko yang sesuai. Karenanya, Dr Djaja menyimpulkan bahwa Tarmizi dan Suryani bukanlah orangtua biologis dari Riko Anggara.

Tentu saja hasil tes DNA ini mengecewakan Suryani dan Tarmizi. Bahkan, Suryani malah tidak mempercayai hasil itu. Bagi Suryani, Riko merupakan anak mereka yang hilang saat tsunami menghumbalang Aceh. Keyakinan Suryani dikarenakan ditemukan banyak kemiripan antara Rahmat Yani dengan Riko Anggara.

“Semua tanda khusus Rahmat ada sama Riko. Kami sudah membuktikannya,” kata Suryani, kecewa. “Demi Allah, Riko itu anak kami.”

Bukan hanya Suryani yang tak percaya hasil ini. Rizky, abang Rahmat, juga sulit memercayainya. Bagi anak pertama pasangan Tarmizi dan Suryani ini, Riko adalah adiknya. Selain pada kemiripan wajah dan tiga tanda yang ada pada Riko, Rizky ternyata masih mengenali satu tanda lagi. “Rahmat di jempolnya ada luka,” kata Suryani.

Suryani mengetahui bahwa Rahmat mempunyai luka di jempolnya setelah diberitahu Rizky. “Hanya Rizky yang tahu Rahmat ada luka di jempolnya,” kata Suryani. “Dia luka saat membelah kelapa. Saat luka itu, Rahmat malah minta abangnya untuk tidak menceritakan pada saya.”

Sebelumnya, Suryani menandai ada tiga luka di tubuh Rahmat yang ditemui pada Riko. Tiga luka itu ada di paha, di atas kening, dan lutut. Bahkan, kata Suryani, Riko saja tidak terlalu ingat lagi dengan luka yang ada di bagian tubuhnya. Misalnya saat Suryani menanyakan perihal luka yang ada di jempolnya. “Riko malah tanya, kenapa saya tahu ada luka di jempolnya,” kata Suryani.

Melihat banyak kesamaan dan kemiripan antara Riko dengan Rahmat, Suryani masih berniat untuk melakukan tes kode genetik lanjutan. “Sekarang kami memang pasrah pada Allah. Kalau memang itu anak kami, suatu saat dia akan cari keluarganya. Tapi, kalau nanti ada biaya, kami akan minta dites DNA ulang,” ujar Suryani. “Tanda-tanda itu yang membuat kami yakin bahwa Riko itu adalah Rahmat.” ***

Selasa, Juni 22, 2010

Video Syur Aneuk Nanggroe

FAKHRURRADZIE GADE

Video indehoi yang diperankan putra-putri dari Aceh beredar luas di negeri ini. Mereka ada yang dipaksa beradegan, ada pula yang merekamnya dengan sukarela.

“KAMU wartawan ya?” Ibu itu menghardik tak ramah. Belum sempat pertanyaan itu dijawab, perempuan itu malah mulai mengusir reporter acehkita.com yang menyambangi kediaman EF, gadis yang mengalami pelecehan seksual di Lhoknga, Aceh Besar. Ayah korban, MF, juga terlihat syok berat. Namun, dia masih berusaha tegar dan mau berbagi cerita dengan reporter majalah ini. "Maaf ya, beliau (istrinya –red.) sangat tertekan," kata MF.

Keguncangan dalam keluarga ini bermula dari video pelecehan seksual yang beredar di Aceh. Video itu memperlihatkan sepasang remaja terlentang di atas pasir putih. Yang lelaki, sedang menggerayangi tubuh si perempuan yang, maaf, bertelanjang dada. Remaja putri itu adalah buah hati pasangan suami istri ini.

Sesungguhnya, perilaku pasangan remaja yang bukan muhrim itu bukanlah dengan suka rela. Mereka adalah korban dari tangan jahil sekelompok pria yang memergoki remaja ini sedang berpacaran di pantai Krung Brok, Lampu’u, Aceh Besar. Sekelompok pria berjumlah 15 orang yang memergoki mereka itu selanjutnya memaksa mereka berbuah seperti itu. Ancamannya jika menolak akan dihajar.

Nada paksaan dalam pembuatan film dengan kamera telepon selular itu jelas terdengar dalam rekaman. Simak saja misalnya, saat seorang pria dengan menggunakan bahasa Aceh memaksa si remaja lelaki –sekali lagi maaf—meremas payudara pasangannya. “Nye hana peugot lagei bunoe, kupoh (Kalau tidak peragakan kaya tadi, kupukul),” ancam pria itu.

Selain mengancam memukul, para pria bejat ini juga mengancam akan melaporkan tindakan kedua kekasih itu kepada salah satu media cetak di Banda Aceh. Tentu juga diancam lapor kepada kedua orang tua mereka.

Raut wajah gadis ini jelas ketakutan. Di akhir film, si gadis meminta agar tindakan mesum ini tidak dilaporkan kepada orangtua mereka. "Bang, jangan bilang ke orangtua saya, ya," pinta si gadis sambil bangkit dari posisi terlentangnya.

Video itu selesai di situ. Namun, efek yang ditimbulkan terhadap kedua kekasih remaja itu, sangat besar. Menurut MF, anaknya kini tidak bisa lagi hidup normal layaknya gadis remaja seusianya. Warga di kampungnya sudah mengucilkannya. "Kasian anak saya.." kata MF. "Hancur sudah masa depannya.”

Untuk ke sekolah saja, EF terpaksa didampingi sang paman, yang setiap hari mengantar dan menjemputnya. MF mengkhawatirkan anaknya diculik oleh para pelaku yang hingga kini belum tertangkap. Mujur, pihak sekolah tidak menghakimi EF. “Tidak ada yang berbeda. Kami berusaha semaksimal mungkin agar dia bisa belajar dengan nomal dan biasa,” kata AR, kepala sekolah, tempat korban menimba ilmu.

AR menyebutkan, EF bisa mengikuti ujian semester sama sebagaimana murid lainnya. Teman-teman sekolah juga tidak mengucilkannya. Mereka berusaha bersikap tidak pernah terjadi apa-apa. “Kami berusaha mencari jalan keluar yang baik atas kasus ini. Sejumlah teman-temannya bahkan memberi perhatian yang sangat baik dan memberikan dukungan moril yang kuat,” kata dia.

Pihak sekolah tidak pernah berencana mengeluarkan EF dari sekolah. Apalagi, “Harapan orangtuanya agar kami tidak mengeluarkan dia dari sekolah. Kami pun tidak berniat mengeluarkannya,” terang AR.

Namun, EF kadung malu. Setelah berkonsultasi dengan pihak kepolisian dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang perempuan, EF memutuskan untuk pindah sekolah. Namun, belum diketahui ke mana EF akan bersekolah nantinya.

Di mata guru dan teman-temannya, EF yang masih duduk di bangku kelas dua itu adalah gadis pendiam dan cenderung tidak periang. “Dia tidak pernah bermasalah di sekolahnya. Di bidang prestasi, ya biasa-biasa saja,” kata AR.

Kasus EF menjadi pelajaran berharga bagi pihak sekolah. Menurut AR, pihaknya kini meningkatkan pengawasan terhaap anak didiknya. “Kita memang tidak bisa mengawasi mereka saat berada di luar jam sekolah, tapi saat dia ada di lingkungan sekolah kita selalu memberi ingatan dan himbauan,” jelasnya.

***

MF tidak habis pikir dengan upaya penegakan syariat Islam dewasa ini di bumi Serambi Mekkah ini. Anaknya hanya menjadi korban penegakan hukum syariat yang salah kaprah. Dia meyakini, sang anak tidak berbuat sejauh yang diperagakan dalam film reka ulang tersebut. "Dia hanya jadi korban," katanya.

MF mengaku pada awalnya tidak melaporkan kejadian itu kepada polisi. Namun setelah kasus itu dijadikan headline di sebuah media cetak di Aceh, MF memberanikan diri melaporkan kejadian tersebut kepada penegak hukum.

Orangtua EF sangat berharap kasus ini bisa diusut tuntas oleh pihak kepolisian. "Saya ingin pelaku yang memperlakukan anak saya seperti ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," katanya.

Saat ditanya lebih lanjut soal kejadian ini, MF masih belum mau umbar keterangan. "Maaf, saat ini saya tidak bisa bicara banyak. Anda lihat sendiri kondisi istri saya yang begitu sedih," ujarnya sambil menahan sang isteri yang terus histeris mengusir acehkita.com dari kediaman mereka.

Tak henti-hentinya ibu korban mengeluarkan kata-kata makian, menumpahkan kekesalan terhadap pelaku bejat itu. "Kasian anak saya, dia sudah tidak punya masa depan lagi. Dia hanya jadi korban, anak saya tidak berbuat sejauh itu," kata MF. Matanya berkaca-kaca.

Saat hendak meninggalkan rumah MF, acehkita.com sempat berpas-pasan dengan EF. Gadis berusia 15 tahun ini langsung masuk ke dalam rumah yang sebagian masih berlantai tanah itu. "Itu anak saya yang jadi korban, dan dia tidak berbuat sejauh itu," tambah sang ayah.

Kehadiran EF di luar rumah membuat sang ibu kembali histeris. "Kenapa kamu keluar rumah?" bentak si ibu, yang masih saja tidak bisa menahan emosi.

Pihak kepolisian berjanji akan menuntaskan kasus memalukan di tengah upaya penegakan syariat Islam ini. Pada Jumat (6/7) lalu, polisi berhasil menangkap ISN, warga Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, yang menjadi salah seorang dari 13 “sutradara” video syur Lhoknga.

Polisi memperoleh identitas pelaku dari korban yang melaporkan kejadian itu kepada aparat kepolisian. Dari informasi awal itu, polisi kemudian menelusuri dan mengumpulkan informasi tentang komplotan pelaku. “Kita memperoleh tiga nama, salah satunya ISN ini,” kata Kapoltabes Komisaris Besar Zulkarnain Adinegara saat dihubungi acehkita.com.

Zulkarnain mengaku, polisi kesulitan dalam menangkap para pelaku yang telah melarikan diri. ISN sendiri sempat bersembunyi di Sabang. “Kelompok mereka sering meresahkan warga, makanya warga melaporkan ke polisi,” kata Zulkarnain. “Yang lain pada lari. Hingga sekarang kita belum mengetahui di mana mereka.”

Kapoltabes meminta mereka menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. Sebab, polisi akan terus menguber mereka. ”Kalau lari terus, mereka serba tidak nyaman. Nanti ketangkap juga,” ujarnya.

Kendati sudah ditangkap polisi, ISN membantah terlibat dalam kasus pemaksaan sepasang kekasih berbuat mesum itu. Namun, berdasarkan informasi yang dikumpulkan polisi dari masyarakat dan korban, ISN termasuk salah seorang ”sutradara” film syur Lhoknga. ”Korban dan masyarakat menunjuk dia (pelakunya). Bahkan, dia yang membawa korban (setelah dipaksa mengulang adegan mesum) ke kepala desa di Lhoknga,” kata Zulkarnain.

Seorang warga Lhoknga, sebut saja namanya Muhammad, mengatakan, kejadian pemaksaan reka ulang itu terjadi sekitar empat bulan silam. Namun, video itu baru menyebar pada pertengahan Mei lalu. Lokasi "syuting" video yang bisa dikatagorikan pada kasus pelecehan seksual itu terjadi di krueng brok , sebuah lokasi wisata pantai dekat kuburan massal Lampu-uk.

Dia menyebutkan, sebenarnya kasus main hakim sendiri terhadap muda-mudi pelanggar syariat Islam sudah terjadi berulangkali di lokasi itu. Namun, baru kali ini modusnya dengan memaksa pengulangan adegan dan merekamnya. Sebelumnya, kata Muhammad, kekasih yang kepergok sedang memadu asmara dihukum. "Pernah dipukul sampai babak belur," kata Muhammad. "Ada juga yang disuruh berenang di kreung brok itu, sampai kapok," dia melanjutkan.

Kendati mengetahui lika-liku setiap kejadian main hakim sendiri itu, Muhammad mengaku tidak mengetahui siapa pelakunya. "Saya tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, mereka memang sering mencari muda-mudi yang sedang pacaran," terangnya. "Biasanya kalau kedapatan, akan mereka hukum sendiri."

Muhammad sendiri sangat menyayangkan sikap main hakim sendiri para pemuda kampung tersebut. Seharusnya, kata dia, para muda-mudi yang diduga telah melakukan perbuatan mesum diserahkan kepada tetua kampung untuk diambil tindakan. "Atau, panggil orangtua mereka, suruh para orangtua yang menghukum," sebut pria ini. "Ini jelas-jelas memalukan."

Banyak pihak mengutuk kasus video pelecehan seksual itu. "Ini tindakan biadab. Kalau memang mereka bersalah, ya serahkan saja kepada pihak berwajib,” katanya. [a]

Laporan: Dara
Published on: ACEHKINI, August 2007

Selasa, September 08, 2009

Pendatang di Negeri Sendiri

FAKHRURRADZIE GADE
[e-mail: radzie@acehkini.co.id]

MUHAMMAD Hassan terbaring lemas di ruangan 3 x 2,5 meter. Di dekatnya ada sebuah lemari kecil. Di atasnya ada obat dan infus. Sebuah Al Quran warna kuning emas bertengger di atas lemari yang dipenuhi oleh obat dan makanan. Di atas Quran, ada dua boat mainan kecil yang dibuat dari kertas buku.

Bukan tanpa alasan pria berusia 22 tahun itu membuat boat kertas. Selama sepuluh hari, dia bersama 583 orang terombang-ambing di laut lepas, setelah Angkatan Laut Thailand melepaskan mereka di laut. Hasan terdampar di perairan Sabang dan diselamatkan nelayan, 7 Januari silam.

Hasan merupakan satu di antara 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang.

Awalnya, mereka hendak mencari kerja di Malaysia. Rencananya, mereka masuk ke Malaysia lewat Thailand. Sayangnya, sebelum rencana itu terwujud, mereka keburu ditangkap Angkatan Laut Thailand. “Selama tiga hari tiga malam, kami dipenjara oleh Angkatan Laut Thailand. Kami dipukul dan disiksa,” kata Hasan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Sabang, akhir Januari lalu. Hasan mendapat perawatan medis akibat penyakit tuberkolosis (TBC) yang dideritanya.

Selang beberapa hari, sebuah rombongan lain terdampar di Idi, Aceh Timur. Jumlah mereka bertambah menjadi 372 orang. Mereka bagian dari 1.000 orang yang diusir Thailand dan dipaksa kembali ke laut lepas. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Myanmar untuk mencari kehidupan yang layak dan terbebas dari penindasan yang dilakukan Junta Militer.

Sejak Junta Militer berkuasa, etnis Rohingya semakin tertindas. Mereka tidak boleh menikah, menguasai tanah, dan bepergian, termasuk tidak diperkenankan melaksanakan ajaran agama secara bebas. “Negara saya mayoritas penganut Budha, mereka tidak suka muslim. Kami tidak diperbolehkan salat di masjid. Saya selalu salat di rumah, tidak ada masjid,” kata Hassan.

Etnis Rohingya merupakan penduduk asli negara bagian Arakan di barat Myanmar. Daerah berdemografi pegunungan ini berbatasan langsung dengan India di utara, negara bagian China di timur laut, distrik Magwe dan Pegu di timur, distrik Irrawady di selatan, dan Bangladesh di barat laut. Arakan dihuni sekitar 5 juta penduduk, yang terdiri atas Rohingya yang muslim dan Rakhine/Maghs yang beragama Budha.

Etnis Rohingya sudah tinggal di Arakan sejak abad ke-7 Masehi. Ini membantah pernyataan Junta Militer yang menyebut Rohingya sebagai pendatang yang dibawa Inggris dan Bangladesh saat menjajah Myanmar. Secara fisik dan bahasa, etnis Rohingya sangat berbeda dengan kebanyakan penduduk Burma/Myanmar. Ciri-ciri fisik Rohingya lebih mendekati Bangladesh dan Arab. Ini dikarenakan etnis Rohingya merupakan keturunan dari Benggali, Persia, Mongol, dan Turki. Karenanya, saat Inggris memasukkan Arakan menjadi bagian British-Burma pada 1937, etnis Rohingya menolaknya. Mereka sebenarnya ingin bergabung dengan India. Arakan akhirnya menjadi bagian Burma merdeka pada tahun 1948. Sejak itu, hidup Rohingya kian tertindas. Mereka terusir, dianiaya, dan tak boleh melaksanakan agama dan keyakinan secara bebas.

Burma juga tidak mengundang perwakilan Islam Rohingya saat perjanjian penyatuan Burma pada 12 September 1947 di Pinlong antara Jenderan Aung San dan perwakilan dari negara bagian Burma untuk bersama-sama merebut kemerdekaan dari Inggris dan kemudian membentuk negara federasi Burma. Etnis-etnis yang ada di Burma diperbolehkan mendirikan negara bagian. Namun tidak untuk Rohingya. Negara bagian Arakan kemudian dikuasai oleh etnis Rakhin –minoritas Budha.

Sejak Junta Militer berkuasa di Burma, nasib Rohingya kian memprihatinkan. Pusat-pusat pendidikan Rohingya ditutup pada tahun 1965. Mereka semakin menderita setelah Junta Militer meloloskan Undang Undang Burma Citizenship Law of 1982. Undang Undang ini menghapus kewarganegaraan muslim Rohingya. Mereka disebut pendatang di tanah air sendiri. Sejak saat itu, mereka tak diakui lagi. Tanah-tanah mereka dikuasai negara. Mereka dilecehkan, dipukuli, dan dihukum tanpa alasan yang jelas.

Populasinya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Saat ini populasi Rohingya di Myanmar diperkirakan dua juta orang, sebanyak 1,5 juta di antaranya tinggal di Arakan. Sebanyak 600.000 tinggal di Bangladesh, 350.000 di Pakistan, 400.000 di Arab Saudi, dan 100.000 di Uni Emirat Arab, Thailand, dan Malaysia.

Mulai tahun 2006, etnis Rohingya mulai melanglang buana lewat laut. Tujuan mereka ke Thailand, lalu menyeberang ke Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih layak.

Perjalanan via laut itu tak selalu membuahkan hasil. Di Thailand, mereka tak hanya ditolak, tapi dikejar-kejar, ditangkapi, dan dikembalikan ke laut dengan kapal tanpa mesin, makanan, dan minuman. Pada 7 Januari lalu, 193 etnis Rohingya terdampar di perairan Kepulauan Rondo, Sabang. Gelombang imigran Rohingya juga kembali ditemukan nelayan di perairan Idi Rayeuk, Aceh Timur, awal Februari lalu setelah 21 hari terombang-ambing di lautan tanpa makanan dan minuman.

Rencana pemerintah Indonesia memulangkan mereka ke Negara asal, ditolak mentah-mentah. “Kami lebih baik mati di sini. Jika kami dipulangkan, saya yakin pemerintah akan membunuh kami,” kata Nur Muhammad dalam sebuah wawancara saat dirawat di Rumah Sakit Umum Sabang. Muhammad dirawat akibat luka dalam yang diderita setelah mengalami penyiksaan di Thailand.

Hasan malah punya mimpi berangkat ke Italia. “Ingin bertemu abang saya yang telah mendapat suaka di sana,” ujar Hasan, sambil memegang dadanya yang sesak.

Diusir di negeri sendiri, mereka juga ditolak di tanah harapan. []

***

Infografis:

SEJARAH: Etnis Rohingya merupakan keturunan orang-orang Arab pada abad ke-7 yang ditaklukkan oleh Burma pada tahun 1784. Etnis ini mendiami wilayah barat Myanmar selama berabad-abad.

KARAKTERISTIK: Etnis Rohingya berasal dari Rakhine, Myanmar. Tapi ciri-ciri fisik dan bahasa lebih mirip dengan orang-orang Bengal di Bangladesh.

KEWARGANEGARAAN: Lebih dari 800.000 etnis Rohingya tinggal di Myanmar, tapi tidak diakui kewarganegaannya.

IMIGRAN TANPA WARGA NEGARA: Menghadapi penganiayaan karena mereka umat Islam yang tinggal di negara yang mayoritas beragama Budha, etnis Rohingya mengungsi ke luar negeri dalam beberapa dekade. Hampir dua juta jiwa telah membuat perkampungan baru dari Arab Saudi ke Malaysia, tempat mereka bekerja secara ilegal.

Sekita setengah juta etnis Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak militer mengambil tindakan keras terhadap mereka pada tahun 1978 dan 1991, kebanyakan dari mereka pindah ke Bangladesh. Banyak juga yang tinggal di pengasingan di Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Malaysia.

PERJALANAN DI LAUT: Sejak 2006, Bangladesh mempersulit etnis Rohingya memperoleh paspor, jadi mereka mulai perjalanan berbahaya dengan boat ke Thailand dan kemudian menyeberang ke Malaysia untuk bekerja.

Sumber: The Associated Press

Kandas di Tanah Harapan

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

TUBUHNYA mungil. Dia tampak gesit saat memanjat kelapa. Dua butir kelapa berhasil dipetik. Belum lagi sempat memetik yang lain, seorang tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menyuruhnya turun. Sambil memperagakan gerakan, sang tentara menyuruh lelaki itu push up. Awalnya, lelaki berkulit legam itu hanya skot jam sekali, namun si tentara menyuruhnya mengulangi gerakan push-up. Enam kali gerakan. Lelaki itu lantas memungut kelapa dan berlalu.

Dalam kerumunan, kelapa itu berpindah tangan. Seorang lelaki kurus tinggi coba mengupas dengan giginya. Sama sekali tak memakai pisau atau parang. Hanya pecahan batu. Kurang dari 15 menit, kelapa itu telah tak berkulit.

Pemandangan itu terlihat, akhir Januari lalu, di Pangkalan TNI AL Sabang. Sejak 7 Januari silam, pangkalan itu dipenuhi 193 warga etnis Rohingya, yang terdampar di perairan Pulau Rondo, 20 mil dari bibir pantai Sabang. Saat diselamatkan ke darat, kondisi mereka mengenaskan: dehidrasi akut, karena kekurangan cairan akibat 10 hari terombang-ambing di laut, tanpa makanan dan minuman.

Di penampungan itu, muslim Rohingya mengisi hari-hari dengan senam, bermain bola, catur, bulu tangkis, dan lompat tali. Sesekali, mereka dibebankan mengecat pagar Pangkalan TNI AL. Pagi –jika matahari terik, mereka "dijemur" di lapangan terbuka. Seorang tentara yang berjaga di pangkalan itu bilang, mereka dijemur karena kondisi mereka sangat lembab. Ini agar mereka tak mudah terserang biri-biri basah.

Setelah sepuluh hari terombang-ambing di laut, mereka juga tidur berdesak-desakan di penampungan. Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Angkatan Laut Sabang menyediakan dua tenda masing-masing berukuran sekitar 10 x 6 meter dan 6 x 4 meter.

Untuk membunuh jenuh, relawan PMI mengatur pola hidup 'manusia perahu' itu. Mereka dibekali pemainan catur, ular tangga, halma, lompat tali, bulu tangkis, bola kaki, dan bola voli. Malam hari, mereka menonton film di layar proyektor yang disediakan relawan PMI Sabang. Khusus malam Jumat, mereka diharuskan membaca surat Yasin.

Saat ACEHKINI bertandang ke kamp penampungan mereka, akhir Januari lalu, pengungsi etnis Rohingya sedang berlaga di lapangan hijau. Mereka menjamu tim PMI. Setelah salat Asar dan makan makanan ringan, sebelas etnis Rohingya menuju lapangan upacara TNI AL. Di sana, mereka membentuk formasi.

Kaos putih bertuliskan GN-OTA dikenakan kesebelasan Rohingya. Sementara kesebelasan PMI memakai rompi berwarna biru donker dan bertuliskan PMI di belakangnya. Etnis Rohingya terbilang pandai bermain bola. Dalam tempo tak sampai 15 menit, mereka berhasil membobol gawang tim PMI. Berselang sepuluh menit kemudian, gol lain diciptakan etnis Rohingya. Sore itu, Rohingya menaklukkan tim PMI dengan skor 2-0.

***

MANUSIA perahu etnis Rohingya ini terdampar di Sabang setelah dilarung di lautan lepas oleh Angkatan Laut Thailand. Pihak otoritas negeri Gajah Putih itu menangkap, lalu menganiaya para manusia perahu. Puas menganiaya, Angkatan Laut Thailand melepaskan mereka ke laut lepas dengan boat kayu tanpa mesin. Stok makanan dan minuman tak mencukupi. Praktis, mereka hanya berharap pada angin yang akan membawa mereka ke daratan terdekat.

"Mereka menarik kami dalam boat kayu tanpa mesin. Tak ada makanan, dan minuman," kata Muhammad Hassan, satu dari 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang. Saat diwawancarai ACEHKINI akhir Januari lalu, Hassan sedang mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Sabang akibat penyakit Tuberculosis (TBC) yang dideritanya.

Hassan menceritakan kekejaman tentara Thailand saat mengusir mereka dari sebuah pulau terpencil negeri Gajah Putih itu. Saat berlabuh di selatan Thailand pada 26 Desember 2008, mereka ditangkap Angkatan Laut dan dijebloskan dalam penjara selama empat hari. Di sana, mereka mengalami penyiksaan bertubi-tubi. Ada yang dicambuk, diinjak dengan sepatu lars, dan dipukul dengan popor senapan.

Usai melampiaskan kekejamannya, tentara Thailand melepaskan etnis Rohingya ke lautan lepas. Mula-mula, empat boat yang berisi 583 muslim Rohingya itu ditarik dengan kapal otoritas Thailand. Sesampai di lautan lepas, "mereka memotong tali boat kami dan membiarkan kami terombang-ambing di laut," kata Hassan.

Boat yang membawa mereka tak besar ukurannya. Hanya 10 x 3 meter. Boat tak bermesin itu mengangkut 200 orang. Mereka berhimpit-himpitan, nyaris tak ada ruang untuk bergerak. Selama 10 hari mereka dihanyutkan gelombang tanpa tujuan. Tujuh orang tak bertahan, meregang nyawa di lautan lepas. "The oxygen will bring us to another place," kenang Hassan dalam bahasa Inggris terbata-bata. "Kami hanya bisa berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan hidup kami."

Selama 10 hari "berkelana" di laut, mereka kerap menjumpai kapal yang melintasi jalur padat Selat Malaka. Hassan menyebutkan, mereka kerap meminta bantuan pada kapal yang lalu lalang, sambil melambaikan kain dan pakaian. Sayang, suara mereka tak terdengar. "Saat saya melihat kapal, saya berteriak minta bantuan. Tapi tak satu pun yang membantu kami," ujar pemuda berusia 22 tahun itu.

Boat yang ditumpangi Hassan bersama 192 orang lainnya merupakan bagian dari empat boat yang dilarung Angkatan Laut Thailand ke lautan lepas. Hassan dan temannya terdampar di Sabang. Satu boat lain terdampar di Pulau Andaman, India. Sementara sisanya hingga kini tak jelas juntrungannya.

Nur Muhammad, etnis Rohingya yang juga terdampar di Sabang, menyebutkan, mereka berlayar ke Thailand untuk mencari pekerjaan yang layak. Sebenarnya, persinggahan akhir mereka, Malaysia. Namun sebelum bisa menjejakkan kaki di Malaysia, mereka ditangkap tentara dan dipenjara di Ranong, Thailand Selatan.

Di negeri sendiri, menurut Muhammad, mereka tak bebas bekerja. Sebelum ke Thailand, Muhammad menyeberang perbatasan secara ilegal ke Bangladesh. Di sana, dia bekerja sebagai nelayan dan mengumpulkan uang untuk membayar "tiket" boat ke Malaysia, sekitar US$430. Dia dan temannya berlayar dengan boat kayu pada 16 Desember 2008. Celakanya, sang kapten boat sama sekali tak tahu arah tujuan mereka, hingga terdamparlah di Ranong.

Keberuntungan belum berpihak pada etnis Rohingya. Saat mencapai Thailand, mereka malah ditangkap tentara dan dipenjara, sebelum akhirnya dilepaskan ke laut dengan boat tanpa mesin, makanan, dan minuman.

"Boat yang kami tumpangi sangat jelek," kata pria berusia 37 tahun itu ketika ditemui di RSU Sabang, akhir Januari lalu. Dia mendapat perawatan medis akibat menderita sakit di pinggang dan luka dalam. "Air laut masuk dalam boat sampai selutut dan kami mulai membuang airnya. Kami hanya bisa berdoa pada Allah agar kami selamat," kata Muhammad.

Thailand dan Myanmar menolak bertanggungjawab atas kasus ini. Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva berjanji akan menyelidiki aksi yang dilakukan tentara Angkatan Laut terhadap warga Rohingya. Myanmar menyebutkan bahwa etnis Rohingya bukan warga mereka.

Undang Undang Kewarganegaraan Burma yang disahkan pada 1982 mencabut kewarganegaraan etnis muslim minoritas Rohingya. "Etnis Rohingya tidak eksis dalam (Union of Myanmar) dan mereka bukan bagian etnis pribumi Myanmar," kata pemerintah Myanmar kepada UNHCR, tahun lalu.

Saat satu tim Departemen Luar Negeri Indonesia dan International Organization for Migration (IOM) sedang memverifikasi etnis Rohingya di Sabang, satu perahu kayu tanpa mesin yang penuh manusia kembali ditemukan sebuah kapal nelayan di perairan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur. Mereka berjumlah 198 orang. Nasib mereka tak jauh beda dengan kelompok manusia perahu di Sabang. Ketika ditemukan, kondisi mereka sangat memprihatinkan.

Menurut kesaksian Rahmad, seorang manusia perahu yang ditemukan terapung di Selat Malaka, mereka sebenarnya berjumlah 220 orang. Tetapi, 22 orang telah meninggal dunia di laut setelah terombang-ambing 21 hari. Mereka juga ditarik ke tengah lautan oleh serdadu Thailand setelah tiga bulan ditahan di pulau kecil Provinsi Ranong. Ke-198 manusia perahu itu kini ditampung di Kantor Camat Idi Rayeuk.



***



DEPARTEMEN Luar Negeri Indonesia semula bersikukuh untuk tidak melibatkan lembaga PBB yang mengurus pengungsi (UNHCR), karena beralasan warga etnis Rohingya merupakan "migran ekonomi". Selain itu, ungkap pejabat Departemen Luar Negeri, ada "pengalaman buruk" dalam menangani manusia perahu dengan UNHCR.

Pejabat Departemen Luar Negeri menyatakan, akan memulangkan warga etnis Rohingya ke negaranya. Tapi karena derasnya tekanan berbagai kalangan dalam dan luar negeri, Indonesia akhirnya mengizinkan UNHCR untuk memverifikasi 391 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang dan Idi Rayeuk, Aceh Timur.

"Kita bersedia mengikutsertakan UNHCR untuk menangani siapa yang tidak mau kembali ke negara mereka," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, kepada International Herald Tribune. "Kita ingin melaksanakan yang terbaik untuk mencari jalan keluar kasus Rohingya."

Meski bersedia bekerja sama dengan UNHCR, pemerintah tetap tak mengizinkan pengungsi Rohingya menetap di Indonesia. Pasalnya, jika diizinkan, gelombang pengungsi etnis minoritas di Myanmar akan terus berdatangan ke Indonesia. "Negara kita bukan untuk para pengungsi," kata dia.

Pendirian pemerintah bertolak belakang dengan keinginan sejumlah kalangan di Aceh. Mereka tetap berharap agar pemerintah bersedia mengizinkan warga etnis Rohingya menetap di Aceh. Beberapa dayah sudah menyatakan kesediaan untuk menampung manusia perahu itu. Alasannya, mereka adalah saudara seiman, dan bila dikembalikan ke negaranya akan mendapat perlakuan tidak manusiawi dari junta militer Myanmar.

Jauh-jauh hari, etnis Rohingya yang terdampar itu juga menolak dikembalikan ke Myanmar, negara yang mayoritas beragama Budha. "Saya lebih baik mati di sini, dibunuh oleh orang muslim," kata Nur Muhammad. "Jika dipulangkan, saya yakin pemerintah akan membunuh kami."

Di tanah harapan, cita-cita Hassan kandas. Niat hati ingin mempunyai kehidupan lebih baik, malah berakhir terapung-apung di tengah samudera. Padahal, ia ingin mengikuti jejak sang abang yang kini menetap di Italia. "Saya tidak ingin kembali ke Myanmar. Takut, karena militer akan membunuh saya. Saya berharap agar pemerintah Indonesia mau mengirim saya ke Italia," kata Hassan. Nafasnya tersengal-sengal. [a]

Bencana di Ambang Mata

Pelan tapi pasti, virus mematikan itu bergentayangan antara kita. Benteng negeri bersyariat bobol sudah, seiring bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS. Bila tak segera ditangani serius, alamat bencana di ambang mata.

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

KABAR itu bak petir di siang bolong. Cahaya sama sekali tak percaya dengan hasil tes darah yang dijalani sang suami. Saat itu, dokter menyatakan suaminya, sebut saja namanya Arman, divonis mengidap virus HIV positif. Hari-hari dijalani Cahaya bagai orang putus asa. Ia kemudian menjalani tes. Hasilnya, membuat ia semakin terpuruk: Cahaya positif HIV dan AIDS. Mulanya, Cahaya marah dan menyesali hidupnya. Terlebih keluarganya shock dengan kejadian ini.

Cahaya tertular virus HIV dari sang suami, yang seorang pecandu narkotika. Saat terinfeksi, Cahaya sedang mengandung anaknya. Awal Maret lalu, dia melahirkan si buah hati. Kegembiraannya atas kehadiran bayi juga direnggut rasa was-was. Kelak di usia 18 bulan, nasib bayinya dipastikan: tertular HIV/AIDS atau tidak. “Syukurlah bila tidak, tapi bila positif kami siap menerimanya,” katanya, pasrah.

Cahaya merupakan potret orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Aceh, provinsi ujung barat Indonesia yang katanya telah memberlakukan syariat Islam secara kaffah. Ia merupakan ODHA yang mampu bertahan dan bangkit menjalani hidup normal. Sisa hidupnya diabdikan untuk berkecimpung di lembaga nirlaba yang bergerak pada upaya penanggulangan HIV/AIDS di Aceh.

Penyebaran virus mematikan itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Data yang dilansir Dinas Kesehatan Aceh cukup membuat mata publik terbelalak. Hingga Desember tahun lalu, ada 29 kasus HIV/AIDS ditemukan di Aceh. Dibandingkan daerah lain, memang angka ini relatif kecil. Tapi, penyebaran meningkat drastis dalam empat tahun terakhir.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Aceh dr. Abdul Fatah menyebutkan, penyebaran HIV/AIDS di Aceh terbilang cepat. Pada tahun 2004, pihaknya hanya mencatat satu kasus. Namun angka itu terus merangsek naik pertahunnya. Pada 2005 tercatat dua kasus. Di tahun 2006 ditemukan tujuh kasus, tahun 2007 (sembilan kasus). Puncaknya pada 2008 yang tercatat 10 kasus. Dari data itu, hubungan seks menjadi faktor dominan penyebaran virus mematikan itu.

Usai bencana gempa bumi dan tsunami melanda Aceh, akhir tahun 2004, banyak “pekerja kemanusiaan” dari berbagai belahan dunia datang ke Aceh. Bandingkan dengan keadaan sebelum tsunami, warga asing sulit bisa masuk ke Aceh. Tetapi, sekarang hampir setiap hari, kita bisa menemukan warga asing yang bekerja di berbagai lembaga internasional dan bergaul bersama warga Aceh.

“Aceh sekarang menjadi wilayah open area. Jadi potensi terjadinya penyebaran HIV juga semakin besar,” kata Abdul Fatah kepada ACEHKINI, medio Maret lalu.

Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Aceh giat memberikan penyuluhan dan pemahaman tentang penyakit ini. Selain penyuluhan soal bahaya AIDS, Dinas Kesehatan juga berupaya menekan stigma negatif terhadap ODHA. “Selama ini ada stigma negatif terhadap penderita HIV. Padahal, HIV tidak ditularkan melalui makan bersama, bersentuhan. Bahkan tak ditularkan melalui ciuman,” ujar Fatah.

Menurut dia, penyebaran HIV/AIDS di Aceh tidak ada sangkut pautnya dengan keberadaan pekerja asing pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Sebab, kebanyakan penderita HIV terinfeksi saat mereka berada di luar Aceh. “Setelah terinfeksi, mereka kembali ke Aceh. Dulunya mereka pernah bekerja di Batam, misalnya,” kata dia.

Pernyataan ini seperti menghibur diri. Tetapi, bagaimana menjamin para pekerja asing itu tidak membawa virus mematikan itu. Apakah sebelum mereka datang ke Aceh, pernah dilakukan tes darah bahwa pekerja asing itu tak terjangkit HIV. Bukan rahasia umum lagi kalau selama ini mereka juga sering menggelar party terbatas, yang juga diikuti warga Aceh, untuk menghilangkan penatnya bekerja.

Harus diakui, praktik prostitusi terselubung juga menjamur di daerah bersyariat ini. ACEHKINI sempat menelusuri jejaring dan lokasi pelacuran terselubung di Banda Aceh dan beberapa kota besar lain. Sejumlah salon kecantikan malah menyediakan servis plus bagi para lelaki hidung belang. Bisnis esek-esek ini juga menghinggapi kalangan remaja di Aceh. Inilah yang menyebabkan Aceh menjadi rentan dan berpotensi meluasnya penyebaran virus yang hingga kini belum ditemukan obat penawarnya.

Praktik prostitusi dan penyebaran HIV/AIDS ibarat sisi mata uang. Di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu menyebar cepat. Hal ini tak terlepas dari bebasnya praktik prostitusi. Angka pengidap HIV/AIDS pada 1997 yang hanya berjumlah satu orang, bergerak cepat dalam jangka 10 tahun. Awal Januari 2007, seperti dilaporkan Antara, di Mimika telah 1.181 warga mengidap HIV/AIDS. Mimika menyumbang 45 persen dari total kasus HIV/ADIS di Papua dan Irian Jaya Barat. Hal yang sama juga terjadi di Maluku.

Gencarnya penyebaran HIV/AIDS di Mimika karena pemerintah setempat gagal dalam menanggulanginya. Selama ini, Pemerintah Mimika hanya memberikan penyuluhan bahaya HIV/AIDS bagi warga. Namun penyuluhan ini tak disertai dengan regulasi pemerintah soal penanggulangan penyakit itu.

Kasus Mimika harus menjadi pelajaran bagi Pemerintah Aceh. Penanggulangan HIV/AIDS di Aceh butuh payung hukum tersendiri. Apalagi pascatsunami Aceh menjadi wilayah terbuka. Baby Rivona, Ketua Medan Aceh Partnership (MAP), menyebutkan, selama ini penanganan HIV/AIDS tak terlalu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal, jumlah penderita di Aceh terus bertambah. Karenanya, “perlu aturan khusus,” ujar Baby.

Rencana aktivis peduli HIV/AIDS mendulang pro-kontra. Ketua Panitia Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Amir Helmi, mempersilahkan jika ada yang ingin mengajukan draf qanun tersebut. “Selama masalah penting dan dirasa mendesak,” ujar Amir.

Ada juga pihak yang menentang rencana pembuatan qanun tersebut. Sebut saja, Khairul Amal. Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, untuk menangani kasus AIDS di Aceh tidak perlu kekhususan. Baginya, cukup diatur dalam qanun kesehatan saja.

Teungku Faisal Ali, Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh mendukung inisiatif lahirnya qanun untuk pengidap HIV/AIDS. “Ini hal positif yang perlu didukung. Meski belum lihat draftnya, saya yakin tujuannya baik, untuk menanggulangi dan menangani masalah HIV/AIDS,” ujarnya.

Menurut Faisal, HIV bukanlah masalah yang harus dihindari. Dia juga meminta masyarakat tak mengucilkan penderita penyakit mematikan itu. Sebab, kata dia, penyakit itu terjadi tak hanya karena perilaku si penderita, tapi bisa jadi karena ketidaksengajaan.

Angka jumlah penderita HIV/AID yang dipapar Dinas Kesehatan ialah data yang tercatat. Menurut prediksi WHO – badan kesehatan dunia— bila terdeteksi satu kasus, berkemungkinan 100 kasus lain terjadi. Jadi tak tertutup kemungkinan HIV positif di Aceh, yang belum diketahui, masih banyak. Nah, bila tidak segera ditangani serius, bencana baru kini mengancam di ambang mata. [a]

Selasa, September 01, 2009

Kenangan Seorang Sahabat

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
[Edited by Nurdin Hasan]

DEBURAN ombak yang sedang mencium bibir pantai, sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Petang itu, Selat Malaka, sedang tak garang. Hembusan angin sepoi-sepoi usai mencumbui pantai, menyapu nyiur melambai dan membawa kesejukan. Hanya ada satu rumah di situ, diapit rimbunnya pohon kelapa dan pisang.Di depan rumah berkonstruksi beton, teronggok buing rumah, agak kecil. Terlihat jelas bekas kebakaran.

Tidak terlihat rumah lain dalam radius satu kilometer. Satu-satunya rumah di situ, hanya milik Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Petang itu, lelaki berusia 74 tahun itu sedang menikmati senja di rumahnya di desa Blang Raya, kecamatan Muara Tiga, kabupaten Pidie. Ia duduk di kursi goyang dari rotan di sisi belakang rumah.

Di dinding teras, dekat pintu masuk tergantung sebuah foto yang di dalamnya terlihat pemilik rumah bersama Irwandi Yusuf, gubernur Aceh hasil pilihan rakyat, akhir 2006 silam. Masuk ke dalam rumah, beberapa foto ukuran besar tergantung di dinding ruangan luas. Ada foto kenangan masa lalu, ada juga yang baru. Di antaranya ada satu foto, yang terdapat pemilik rumah bersama Tengku Hasan Muhamad Ditiro. Terlihat kekerabatan antara keduanya, sejak lama.

Masih segar dalam ingatan Muhammad perangai Hasan Tiro yang di kalangan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dikenal sebagai wali nanggroe. Suatu hari usai deklarasi Aceh Merdeka tahun 1976, ia menyodorkan selembar surat kepada Hasan Tiro.

Sebelum Tiro membaca, dia menyuruh Muhammad mengecek kembali surat. “Coba baca dan periksa dulu,” perintahnya. Seketika, Muhammad menjawab sudah dua kali membacanya.

“Coba baca lagi,” ujar Tiro. Muhammad pun terpaksa membaca lagi surat yang diketiknya dengan mesin tik. Usai membaca untuk ketiga kalinya, dia menyodorkan surat itu kepada deklarator Aceh Merdeka.

Tiro membacanya dan menyapu huruf demi huruf yang tertulis di atas kertas tersebut. Aha, Tiro menemukan satu kesalahan yang diperbuat Muhammad. Di surat itu, ia lupa membubuhi satu tanda koma.

“Berapa bulan sudah kalian bersama saya?” tanya Tiro kepada Muhammad dan Darul Kamal. Dua orang kepercayaan Tiro itu hanya terdiam. Tiro lalu bilang, “Tanda koma sama posisinya dengan huruf-huruf lain, sama dengan huruf A, B, C. Kenapa dihilangkan?” ujar Tiro dengan intonasi tinggi.

Setelah mendapat teguran itu, Muhammad dan kawan-kawannya sangat hati-hati bila mengetik surat. Di matanya, Tiro tak hanya telaten, tapi juga sangat rapi dan tegas. Satu ketika usai mendeklarasikan Aceh Merdeka, Hasan Tiro menerima surat dari seseorang yang meminta jabatan.

Surat pertama dan kedua didiamkan saja. Baru pada surat ketiga, ia mengutus Muhammad dan Ir Asnawi Ali mengecek latar belakang orang yang meminta jabatan tersebut. “Sebelum kita mengangkat seseorang sebagai pemimpin, kita harus tahu dulu apa yang sudah diperbuat orang itu,” kata Tiro. Kalimat tersebut sampai sekarang masih membekas di benak Muhammad.

Yang juga paling diingatnya dari sosok Hasan Tiro adalah kerapian. Ia adalah sosok pekerja keras, tak kenal lelah dan mempunyai watak yang keras. Tak jarang, Muhammad dimarahi Tiro. Tapi, tak sembarang orang yang dimarahi. “Saya, Darul Kamal, dan Dr Husaini Hasan yang sering dimarahi Wali,” jelas Muhammad kepada ACEHKINI, beberapa waktu lalu.

Ketiga orang inilah yang sering menjadi sasaran jika Tiro marah. Menurut Muhammad, Hasan Tiro berani memarahi mereka karena, “kamoe ureueng dalam, hahaha..” ungkap Muhammad.

Mungkin karena “orang dalam” pula ketika Hasan Tiro pulang ke Aceh tahun 1976, setelah berbilang tahun menetap di New York, Amerika Serikat, orang pertama yang dicarinya adalah Muhammad. Seperti ditulis dalam bukunya The Unfinished Diary, setelah berlabuh di Kuala Tari, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Tiro langsung mencari Muhammad sebelum “naik gunung.”

Menurut Muhammad, Hasan Tiro juga sangat memperhatikan kesempurnaan kerja. Pernah, saat pindah asrama (maksudnya markas –red), Tiro langsung memulai kerja. Padahal, hari itu sudah larut malam. “Kalau pindah asrama, yang pertama dikerjakan adalah membuat meja,” kata Muhammad.

Tiro juga selalu memberi contoh baik kepada mereka. Usai bekerja, dia selalu membereskan meja kerjanya. Nyaris tak ada satu kertas pun yang tercecer di meja dan ruang kerja. Begitu juga, jika mau menulis surat, selalu dilakukan Tiro saat surat tersebut mau dikirim atau dititip.

"Biasa ditulis waktu pagi atau waktu mau berangkat,” jelas Muhammad. “Ini dilakukan biar kalau digerebek musuh, tidak ditemukan barang bukti apa pun.”

Sifat kehati-hatian Tiro karena yang dipimpinnya adalah gerilyawan. Sebelum mendeklarasikan Aceh Merdeka di Gunong Halimon, Pidie, 4 Desember 1976, dia pernah mengikuti pendidikan non-formal taktik gerilya. Metode gerilya ini pula yang diterapkan Tiro saat mendidik angkatan bersenjata pertama Aceh Merdeka di kamp Tanzura, Libya. Makanya, dia mewanti-wanti bawahannya untuk selalu sigap dalam segala kondisi.

Meski berwatak keras, Tiro tak arogan dalam memerintah. Muhammad pernah disuruh membuat sketsa pekerjaan yang akan dilakoninya. Saat itu, Tiro menyuruhnya menyebarkan selebaran keberadaan Aceh Merdeka di Medan. Sebelum dia melaksanakan tugas, Tiro terlebih dulu bertanya strategi yang akan dipakai Muhammad: siapa yang akan ditemui, melalui jalan mana akan ditempuh.

Saat itu, Muhammad menyebutkan beberapa orang dan kawasan yang akan dikunjunginya. Ada beberapa target yang disebutnya dibatalkan Tiro. Pernah juga, saat menerima tugas lain, Muhammad mengajukan protes karena Tiro tak pernah menentukan target yang jelas.

“Tengku, kenapa tidak ditetapkan saja. Tinggal kami jalankan saja,” protesnya suatu ketika.

“Saya tidak mau orang menipu saya. Kalau saya tentukan, nanti kalian tidak bisa menjalankannya,” Tiro memberi alasan, “tapi kalau kalian yang tentukan, pasti bisa dilaksanakan.”

Itulah sekelumit kenangan Muhammad selama Tiro berada di Aceh setelah mendeklarasikan pemberontakan terhadap Jakarta. Setelah berangkat lagi ke pengasingan di Amerika, sampai akhirnya menetap di Swedia, mereka tetap saling berkomunikasi. Maklum, selain keterikatan secara garis perjuangan, keduanya mempunyai hubungan darah. Mereka adalah sepupu.

Muhammad termasuk salah satu orang yang berani membantah Hasan Tiro. Dalam sebuah rapat di rumah Tiro di kawasan Alby, Stockholm, Swedia, Tiro pernah terlihat sangat marah, karena para gerilyawan GAM dinilai tak lagi gesit dalam melawan pasukan pemerintah Indonesia.

Orang kepercayaan yang diserahi mandat menjabat Menteri Keuangan GAM dalam kabinet Tiro dan hampir sepertiga hidupnya dihabiskan dalam penjara, ingat betul saat Tiro bilang, “Awak Aceh njoe sabe idiot.” Hasan Tiro sering memakai kata idiot untuk menilai orang bodoh. Kata itu biasanya dulu juga sering diucapkan saat Tiro menyerang Indonesia.

Mendengar pernyataan ini, Muhammad unjuk bicara. “Tengku sudah lama tidak berada di Aceh,” katanya. Dia lalu menceritakan kondisi kekinian Aceh, tentu yang tak diberitakan media massa. Misalnya, Muhammad menceritakan bagaimana personel GAM menguasai Kota Idi, Aceh Timur. “Tapi setelah itu, dalam radius beberapa kilometer, tentara akan menyerang. Abeh manok, abeh naleung, abeh rumoh. Semuanya musnah,” kata dia.

Mungkin, lanjut Muhammad, beberapa tahun kemudian Aceh akan merdeka seperti yang diidam-idamkan dan diperjuangkan mereka. “Apa gunanya lagi? Di kampung yang ada hanya orang tua renta, hanya ada tanah lapang tak berumah? Lalu untuk apa lagi merdeka kalau sudah begini,” sebutnya.

Hasan Tiro terperangah mendengar “ceramah” karibnya itu. Tiro hanya bisa mondar-mandir di ruangan sambil menggigit gagang kacamatanya. “Kalau begitu, kita harus ubah strategi,” katanya.

“Sebelum ada restu dari Tengku, kita di Aceh sudah mengubah strategi. Apa yang Tengku ajarkan soal hit and run sudah kami jalankan,” kata Muhammad berargumen. Dalam usia renta dan deraan leukemia, Muhammad masih tetap bersemangat. Dalam kesunyian, dia berharap Aceh bisa maju, di tangan kaum muda. Ia mengaku Allah telah memberikan bonus usia kepadanya.

Lantas, pernahkan Tiro menyampaikan kerinduannya kembali ke kampung halaman, setelah 30 tahun ditinggalkan? “Tengku, kalau ada orang yang mau pulang ke Aceh selalu menyiapkan tas. Dia bilang, ‘man lon han neupeuwoe’,” ungkap Muhammad.

Tiro, agaknya memang benar-benar rindu tanah kelahirannya. [a]

Sabtu, Agustus 29, 2009

Reuni Kapten dan Penyerang

Oleh Fakhrurradzie Gade & Jamaluddin

Hasan Tiro mahir menggiring si kulit bundar. Tendangannya kerap membobol gawang lawan.

“I can’t speak English,” kata Azhari saat Hasan Muhammad di Tiro menanyakan namanya.

Pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu lantas bertanya dalam bahasa Arab. “Man ismuka?”

“Ismi Azhari,” jawabnya.

“Azhari...?” Raut wajah Hasan Tiro berubah. Ia terlihat menebar senyum. Azhari lalu dipersilakan duduk di sisi kirinya. Keduanya lantas melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam. Azhari berkali-kali meraba tangan kiri Hasan Tiro, mencubit kecil tangan kerutnya yang sudah renta.

“Kita sudah tua,” katanya, masih dalam bahasa Arab. Hasan Tiro mengangguk.

Azhari dan Hasan Tiro berteman sejak kecil. Dulu, mereka satu sekolah di Madrasah Diniyah Islamiyah Blang Paseh, Sigli. Hasan Tiro merupakan adik kelas Azhari. Tapi, “dia terlalu pandai,” kenang pria berusia 85 tahun itu. “Dia sering loncat kelas, sehingga saya tertinggal di belakang.”

Tak mengherankan, Hasan Tiro dengan mudah bisa merampungkan pendidikan di sekolah yang diasuh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh itu. Dia lantas bersekolah di Al Muslim Peusangan, Matang Geulumpang Dua, Bireuen. Sejak menamatkan sekolah di Blang Paseh, kedua sahabat karib itu tak pernah lagi bertemu.

Tapi, jarak yang memisahkan keduanya tak lantas membuat mereka saling melupakan. Azhari selalu mengikuti perkembangan Hasan Tiro melalui surat kabar. Begitu pula, saat kabar Hasan Tiro pulang kampung, 11 Oktober silam. “Saya selalu berdoa agar Allah memanjangkan umur saya dan bisa bertemu Hasan Tiro,” kata Azhari.

Doa itu dilafalkannya setiap usai menunaikan salat lima waktu. Doa itu pula yang disampaikan Azhari saat bersua dengan Hasan Tiro, di rumah adiknya di Dusun Tanjong Bungong, Desa Mali Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, 14 Oktober silam.

“Sekarang, doa saya terkabulkan. Kita telah bertemu sekarang,” kata Azhari. Hasan Tiro hanya mengangguk. Keduanya terdiam. Tak berapa lama, reuni dua sahabat itu berakhir karena Hasan Tiro harus bersantap makan siang.

***

PERTEMUAN lima belas menit itu sangat berarti bagi Azhari. Ini merupakan pertemuan yang dinanti semasa hayatnya. Begitu koran-koran mengabarkan Hasan Tiro yang di kalangan aktifis GAM dikenal sebagai wali nanggroe akan pulang ke Aceh, Azhari telah mempersiapkan diri. Kabar itu ditulisnya di secarik kertas dan ditempel di pintu rumah, dekat ranjangnya. Saban hari, dia membaca kabar itu, menanti hari kepulangan Hasan Tiro tiba.

Ahad, 12 Oktober, sehari setelah Hasan Tiro menjejakkan kakinya kembali di Aceh, Azhari bersiap diri. Pagi-pagi sekali, saat matahari masih belia, dia telah datang di rumah Siti Aisyah, adik tiri Hasan Tiro. Pagi itu, Azhari mengenakan jas tua, yang dibelinya bersama Hasan Tiro dulu.

Jas hitam itu lusuh sudah. Warnanya telah pudar. Lama sekali jas itu disimpan di lemarinya. “Saya tidak pernah memakainya lagi,” kata Azhari.

Pagi itu, jas tua sengaja dipakainya, dipadu kemeja tua berwarna merah. “Saya pakai jas, biar sama dengan Hasan Tiro. Apalagi saya lihat dia memakai dasi merah. Saya pikir itu warna bajunya,” kata Azhari, tersenyum memperlihatkan gusi yang tak bergigi.

Namun, penantian itu tak membuahkan hasil. Hasan Tiro yang ditunggui, tak kunjung datang. Jelang siang, dengan sepeda mininya, dia kembali ke rumah. Jas yang dipakainya, dilipat dan kembali disimpan di lemari.

Besoknya, Azhari kembali mendatangi rumah Aisyah, yang berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. Azhari lagi-lagi harus memendam kecewa. Hasan Tiro yang ditungguinya tak jua datang. Sialnya, ban sepeda bututnya bocor saat pulang dari rumah adik Hasan Tiro. Baru pada Rabu, penantian itu membuahkan hasil. Itu pun, setelah bersusah payah menunggu sejak pagi.

Hampir saja Azhari tak bisa bertemu dengan teman sekaligus idolanya. Pasalnya, pengawalan Hasan Tiro sangat ketat. Azhari yang semula hanya mau bersalaman saja, tidak bisa. Hasan Tiro keburu digiring ke rumah sang adik.

“Saya didorong-dorong tidak boleh bertemu. Padahal saya hanya ingin salaman saja,” kata dia.

Untung saja, beberapa pengawal Hasan Tiro dikabari bahwa Azhari merupakan teman sepermainan bos mereka sewaktu kecil. Tak berapa lama, Azhari pun digiring ke dalam rumah dan dipertemukan dengan Hasan Tiro.

“Saya senang bisa bertemu Tengku Hasan Tiro. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa,” kata Azhari pada ACEHKINI usai melepas kerinduannya.

Rindu Azhari benar-benar tertunaikan, meski ia harus rela sandal kesayangannya raib entah kemana. Memang, usai bertemu teman masa kecilnya itu, dia harus rela sandal Mirado coklat miliknya hilang. “Tapi tidak apa-apa, saya senang bisa bertemu teman saya,” ujarnya.

Azhari lega. Usai duduk bersanding dengan Hasan Tiro, dengan sepeda bututnya, Azhari kembali ke rumah. Kemeja hitam bermotif bunga dilepasnya. Dia langsung merebahkan diri di peraduan. “Saya senang sekali. Makanya, begitu pulang saya langsung tidur,” ujarnya. “Njoe teungeut-teungeut ka mangat.”

***

AZHARI ingat betul masa kecilnya bersama Hasan Tiro. Di mata Azhari, Hasan Tiro kecil, sosok yang cerdas. Saat bersekolah di Blang Paseh dulu, Hasan Tiro sangat menyukai pelajaran berhitung dan mengaji. Tak mengherankan jika kemudian Teungku Daud Beureu-eh, pejuang Darul Islam, merekomendasikan Hasan Tiro melanjutkan pendidikan di Al Muslim Bireuen. Usai di Al Muslim, Hasan Tiro mengambil jurusan Hukum Internasional di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Menurut Azhari, saat masih di Blang Paseh, Hasan Tiro nyambi sebagai tenaga pengajar di balai pengajian yang didirikan ayahnya, Muhammad di Tiro, di Tanjong Bungong. Di balai itu, Hasan Tiro berduet dengan Azhari mengajar anak-anak sekampungnya belajar ilmu agama dan umum. Balai pengajian itu kemudian jadi cikal-bakal lahirnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tanjong Bungong, Desa Mali Cot. “Di sana, saya dan Hasan Tiro mengajar, ganti-gantian. Ada dua guru lagi, tapi saya tidak ingat lagi nama mereka,” kata Azhari.

Tak hanya pandai di bangku sekolah, Hasan Tiro kecil juga menjadi bintang di lapangan hijau. Dia pandai mengolah si kulit bundar. Azhari bilang, hampir saban hari usai sekolah atau mengaji, mereka menjejal kemampuan sepak bola. Tapi jangan membayangkan si kulit bundar yang mereka mainkan itu terbuat dari bahan kulit atau plastik. “Kami main bola boh giri,” kenang Azhari.

Boh giri adalah jeruk bali. Saban hendak main bola, Hasan Tiro memetik jeruk bali di kebun neneknya. Tak jarang, Hasan Tiro harus main kucing-kucingan dengan sang nenek. “Dia dilarang main bola, karena tidak baik kata neneknya,” ujar Azhari.

Karena Hasan Tiro sangat kepingin main bola, larangan itu tak dihiraukan. Dia rela saat harus “mencuri” jeruk bali di kebun neneknya untuk bisa menggiring si bundar di lapangan hijau. Azhari dan Hasan Tiro selalu berduet. Hasan Tiro sering bertindak sebagai penyerang kanan. Sedangkan Azhari di posisi kapten.

“Kalau bola sudah di kaki Hasan Tiro, pasti masuk. Tendangannya keras sekali,” kenang Azhari.

Mereka kerap memenangkan permainan. Bahkan, saat berlaga di kampung tetangga, duet Hasan Tiro-Azhari selalu membuat kesebelasan Tanjong Bungong keluar sebagai pemenang. Tarkam alias permainan sepak bola antarkampung menjadi favorit mereka. Jika sudah berlaga di arena tarkam, Tanjong Bungong selalu unggul. Azhari masih ingat saat mereka mengalahkan kesebelasan Titeue, Beureunuen, dan Lamlo. Dalam ajang tarkam itu, Hasan Tiro selalu berhasil menjaring boh giri ke jaring lawan.

Tentu, reuni singkat antara kapten dan penyerang itu tak hendak menjejal lagi kemampuan mengolah si kulit bundar. Keduanya, kini telah renta dimakan usia. [a]

Pesta Kecil Menyambut Cut Abang

Oleh FAKHRURRADZIE GADE & JAMALUDDIN

Sang adik mempersiapkan segalanya, demi menyambut kepulangan Hasan Tiro. Bersama warga desa pedalaman itu, dia menata semuanya, bagaikan pesta, hingga makanan kesukaan cut abang disiapkan.

Matahari baru sepenggalah, saat Siti Aisyah keluar dari rumahnya. Dia bergegas menuju kios yang ada di depan rumah. Di sana, dia bertemu sejumlah warga yang menunggu kepulangan Hasan Tiro, abang kandungnya dari ibu yang berbeda.

“Nyak Liah, tolong petik kelapa beberapa butir, ya,” kata Aisyah kepada Ilyas, yang berdiri di sampingnya. Ilyas mengangguk. “Bereh njan. Buet peue yang hana bereh meunye ngon lon (Beres, pekerjaan apa yang tidak beres kalau saya yang kerjakan),” timpal Ilyas, setengah bercanda. Aisyah tersenyum. “Teungku, kapan Cut Abang pulang?” tanya Ilyas. Teungku adalah panggilan masyarakat setempat pada Aisyah. Dia hanya menggeleng. “Tidak tahu. Kita hanya menunggu, saya tidak berani tanya,” jawabnya.

Aisyah meninggalkan kios. Ilyas menyusulnya. Tiba-tiba, di bawah pohon sawo, kaki Aisyah berhenti. Matanya melihat ke bawah. “Nyak Liah, nyoe pat mantong cot anoe jih, teusireuk watei tagidong (Ilyas, ini masih ada gundukan pasir. Tolong ratakan),” ujar Aisyah.

Ilyas manggut-manggut. Di depan Aisyah, dua perempuan terlihat sibuk menyapu dedauan sawo yang berguguran. Seketika, tanah kosong itu bersih.

Kesibukan tak hanya di luar pagar rumah. Di pekarangan, tiga helai daun pisang muda dijemur. “Nyan on keu timphan,” kata Aisyah, sembari mempersilakan ACEHKINI duduk di bangku yang ada di sisi kanan tangga rumah Aceh.

Rumah Aisyah berada di Desa Mali Cot, Dusun Tanjong Bungong, Kecamatan Kota Bakti, Pidie. Dua puluh lima meter sebelah kanan rumah, sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Pande dan Tanjong Bungong, berdiri tegak. Air sungai Tiro mengalir jernih di bawahnya.

Beberapa pria berkumpul. Sebagian sibuk menimbun pasir pada setiap lubang becek di halaman rumah. Ada juga yang sibuk, memasang kain berwarna merah bergaris hitam di sepanjang jalan menuju rumah. Banyak pula yang hanya duduk di depan sebuah kios, tak jauh dari jembatan.

Rumah Aisyah seketika berganti rupa. Di dalam rumah, para wanita berkumpul. Seperti ada pesta besar. Mereka sibuk mempersiapkan makanan khas Aceh, seperti timphan, ketan, dan kuah pliek u. Nyak Aisyah juga tak mau ketinggalan. Dia ikut memasak bersama puluhan perempuan di dapur rumahnya. Meski usianya sudah mencapai 81 tahun, namun Aisyah masih gesit. Ia ingin menyajikan masakan khusus untuk Cut Bang Hasan Tiro, langsung dari tangannya sendiri.

“Gobnyan deumpeue makanan galak, hana meuceh-meuceh, kuah pliek gobnyan pih galak syit (Abang suka makan apa saja, tak pilih-pilih, tapi yang paling digemari adalah kuah pliek)”, ujar Aisyah dalam bahasa Aceh, sembari memanggil keponakan agar menyediakan minuman bagi tamu yang datang.

Kisahnya, semenjak kepergian Hasan Tiro menuntut ilmu ke Bireuen dan kemudian ke luar negeri, dia nyaris tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah tempatnya dilahirkan dulu. “Cut bang pernah pulang sekali tahun 1971, namun hanya sebentar,” lanjut Aisyah.

Dia bercerita, Hasan Tiro muda pernah mengajar pendidikan agama pada sejumlah anak-anak desa, di balai belakang rumah. Kini, tempat itu telah menjadi sebuah dayah. Menjelang kepulangan Hasan Tiro, dayah tempat pengajian inipun turut dipermak.

Halamannya ditaburi pasir, tempat wudhuk yang dulunya bocor sudah ditambal. Selang beberapa meter dari dayah, ada tempat pemakamam. Makam itu juga telah bersih dari rumput dan daun-daun yang berguguran. “Di sini kuburan orang tua dan abang kandungnya ‘wali’, sejak seminggu lalu sudah dibersihkan,” ungkap Waled, seorang warga sekitar. Dia juga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dua hari menjelang Tiro pulang kampung, Wakil Bupati Pidie, Nazir Adam, sempat mengunjungi rumah Aisyah, melihat persiapan. Dia menyumbangkan sejumlah pasir untuk ditimbun di halaman balai. Sedangkan camat setempat juga ikut membantu pemompa air untuk dayah. Urusan kebersihan bagian warga, yang bergotong royong mengecat dayah, menimbun jalan sampai memasang pompa air.

Dua hari kemudian, penantian Aisyah dan warga untuk melihat raut muka Hasan Tiro terwujud. Dari sebuah mobil mewah bernomor polisi BK 20 SD, kaki deklarator GAM, kembali manapaki menginjak rumah tempat ia dibesarkan. Aisyah tak mampu berkata-kata. Dari matanya yang penuh kedutan, bulir air mulai mengalir. Sesekali pandangannya dikaburkan oleh ramainya warga yang saling berebutan menyapa, “wali”.

Di pelukan sang abang, prosesi sipreuk breuh pade dilakukan, pertanda permohonan berkah dari Yang Maha Kuasa. Ucapan syukur terus meluncur dari bibir tua Asiyah yang tak pernah tersentuh lipstick itu. “Alhamdulillah…” ucapnya bergetar.

Beberapa pria renta berjejer di bawah tangga rumah. Mereka kawan sepermainan Hasan Tiro kecil. Sama seperti warga Tanjong Bungong lain, mereka mencuri mata untuk melihat sosok yang selama ini jauh dan hanya didengar nama. Pandangan mereka kerap terusik dengan tubuh kekar para pasukan pengawal. Mereka hanya melihat ‘wali’ dari celah sempit tubuh tim apet yang menjaganya masuk ke rumah.

Di dalam rumah, dia disanding di kasur pelaminan yang telah dipersiapkan. Hasan Tiro tersenyum dan selalu bertanya nama kepada setiap kerabat yang menyalaminya, termasuk pada adiknya Nyak Aisyah. Padahal saat penjemputan di bandara, Aisyah pernah bertemu muka dan berangkulan. Malik Mahmud, setia menyegarkan ingatan Hasan Tiro.

“Thank you, thank you…” Kata itu tak pernah lupa dia ucapkan. Pada kerumunan keluarga di dalam rumah, seorang cicitnya membalas, “I miss you, Abu chik”. [a]

[Edited by Riza Nasser]

Senin, Juni 08, 2009

Ibarat Orang Pacaran

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

“FARID,” kata Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud, “saya percaya kamu. Tapi saya belum percaya Jakarta.”

Farid tersentak. Belum lagi negosiator mewakili Indonesia itu memberi jawab, Malik berujar, “Saya belum percaya sama orang yang berbaju hijau.”

Orang berbaju hijau yang dimaksud Malik Mahmud adalah TNI. Kecurigaan Malik tak berlebihan. Beberapa kali proses perundingan selalu gagal dan ujung-ujungnya pemerintah mengirim tentara ke Aceh untuk menumpas gerilyawan GAM.

“Pemerintah sekarang adalah tentara dan sipil,” ujar Farid coba meyakinkan Malik. “Kalau Teungku tidak percaya, ayo bicara dengan Pak Jusuf Kalla.”
Dialog antara Malik Mahmud dan Farid Husain berlangsung dalam sebuah Mercedez Benz saat menempuh perjalanan ke Lahti, kota kecil di pinggiran Helsinki, ibukota Finlandia, usai perundingan babak pertama, pada 29 Januari 2005. Usai pertemuan, empat perunding Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Widodo Adi Sucipto, memilih pulang ke Jakarta, sedangkan Farid tetap bertahan di Finlandia.

Di pagi yang dingin itu, delegasi GAM terdiri atas Malik Mahmud, Zaini Abdullah, M. Nur Djuli bertandang ke Lahti untuk bertamu ke rumah Juha Christensen, tokoh kunci di balik perundingan Helsinki. Malik mengajak Farid ikut serta. Nur Djuli tak semobil dengan Malik. Dia dan teman-temannya memilih naik sedan lain.

Farid semula ingin semobil dengan perwakilan GAM lain, tapi Malik mencegahnya. Dia meminta Farid ikut dalam mobil yang ditumpangi bersama Zaini Abdullah, koleganya yang menjabat Menteri Luar Negeri dan Menteri Kesehatan GAM. Jadilah mereka bertiga dalam satu mobil. Farid duduk di tengah, sementara Malik di bagian kanan dan Zaini di kiri.

Perjalanan berjarak 100 kilometer, digambarkan Farid, berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Canda dan tawa kerap hadir menyemarakkan kedua pihak yang selama ini berbeda aliran politik. Perjalanan itu dimanfaatkan Farid untuk lebih mendekati petinggi GAM. Dia berupaya keras untuk meyakinkan Malik dan Zaini soal komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam menyelesaikan konflik Aceh secara damai.

“Dalam perjalanan itulah, saya banyak masuk,” aku Farid saat ditemui ACEHKINI di kantornya di kawasan Rasuna Said Jakarta Selatan, awal Juli lalu.

Farid mencoba menumbuhkan kepercayaan GAM terhadap Pemerintah Indonesia selama perjalanan. Menurut Farid, Malik sempat mempermasalahkan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla di media, yang menyebutkan orang Aceh takut sama orang Makassar. Sebagai informasi, tiga tokoh kunci perundingan yaitu Jusuf Kalla, Farid Husain, dan Hamid Awaluddin merupakan “geng Bugis.”

“Pak Farid, kenapa Pak Jusuf bicara seperti itu,” ujar Malik.

“Teungku, saya kenal Pak Jusuf. Tak mungkin beliau bilang begitu,” jawab Farid.

Agar Malik percaya, Farid langsung mengambil telepon selular miliknya dan menghubungi Kalla. Telepon kemudian diberikan kepada Malik, sehingga keduanya bisa berbicara langsung. “Saat kami berhenti dan pergi ke WC, saya telepon Pak Jusuf Kalla. Pak Malik dan Pak Jusuf ngobrol bersama. Pak Jusuf bilang, itu biasa, wartawan salah kutip,” ujar dokter bedah itu. Perbincangan telepon itu mencairkan hubungan Malik dengan Jusuf Kalla.

Sebelumnya, Malik meminta supir menghentikan laju Mercedez yang membelah jalanan bersalju, agar mereka bisa buang air kecil dan membeli kembang serta oleh-oleh untuk Lisa, istri Juha Christensen. Usai membeli kembang, mereka melanjutkan perjalanan. Kesempatan itu digunakan Farid untuk kembali meyakinkan pihak GAM agar menerima otonomi khusus yang ditawarkan pemerintah.

“Teungku, terimakasih. Karena Teungkulah, kita semua sehat hari ini,” ujar Farid. “Kalau Teungku tidak ada di mobil ini, belum tentu mobil akan berhenti, sehingga kami tidak bisa buang air kecil.”

Tindakan Malik memberhentikan mobil digunakan Farid untuk meyakinkan bahwa GAM bisa mengendalikan negara ini, jika mereka mau menerima tawaran otonomi khusus. “Kalau Teungku mau ubah pemerintah,” kata Farid kepada Malik, “Teungku harus masuk dalam pemerintahan. Karena Teungku tidak mungkin mengubah jika berada di luar.”

***

FARID Husain dikenal pandai melobi, padahal dia bukan seorang diplomat. Juha menggambarkan sosok Farid sebagai orang yang tidak kenal kata menyerah. Pernah dua kali dia ditolak bertemu Malik cs, tapi Farid tak langsung patah arang. Dia berusaha mendekati mereka melalui lingkaran keluarga. Suatu ketika, Farid sengaja terbang ke Singapura untuk bertemu Amir, abang kandung yang sangat disegani Malik. Pada Amirlah, Malik menitip semua anggota keluarganya saat dia menetap di Swedia. Tak hanya keluarga Malik, Farid juga menjumpai keluarga Zaini Abdullah di Desa Teureubue, Kecamatan Mutiara, Pidie.

“Tidak mungkin begitu saja bisa ketemu mereka. Saya ketemu bapaknya Zaini. Saya bikin hubungan emosional dengan bapaknya,” beber Farid.

Tak cukup melobi GAM Swedia, Farid juga bergerilya bertemu beberapa kalangan. Menurut dia, ada lima faksi di tubuh GAM yang harus ditemui untuk menemukan kata sepakat karena keputusan dalam kelompok gerilyawan itu diambil secara kolektif. Faksi pertama adalah pasukan GAM di lapangan, kemudian GAM Swedia, kalangan (aktivis) sipil, “dutabesar” GAM di sejumlah negara, dan terakhir adalah para pemikir GAM (think tank). “Saya dekati satu per satu agar semuanya bilang iya, baru boleh ketemu,” ujar mantan dosen di Universitas Hasanuddin itu.

Farid juga terbang ke sejumlah negara untuk bertemu “dutabesar” GAM, semisal Fadhlun di Belanda, Yusra di Denmark. Pertemuan dengan para “dutabesar” ini, kata Farid, terbilang sulit. “Mereka sampai menggebrak meja, mereka menceramahi dan memaki-maki saya,” aku Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan ini. “Tapi saya harus bersikap tenang dan bertahan.”

Kepada para “dutabesar”, Farid bilang bahwa dia simpati dengan perjuangan yang sedang digelorakan. Dia kemudian menarik garis sejarah pemberontakan Andi Aziz dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Menurutnya, orang Bugis sudah dua kali melakukan pemberontakan terhadap republik dan menginginkan kemerdekaan.

“Selama ini mati satu per satu kita punya keluarga,” ujarnya mencoba meyakinkan pihak GAM. “Sekarang mari masuk bersama, kita urus negara ini. Buktinya, kami sekarang sudah pegang pemerintahan.”

Usai meyakinkan para pentolan GAM di pengasingan, menjelang penandatanganan Pakta Damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005, bersama Mahyuddin, seorang warga Aceh yang dikenal dengan GAM lapangan, Farid bergerilya ke hutan di pedalaman Aceh Utara untuk menemui Jurubicara Militer GAM Sofyan Dawood.

Dalam upaya merintis hubungan dengan tokoh-tokoh GAM, Farid sempat beberapa kali berusaha menemui pucuk pimpinan tertinggi kelompok itu, Teungku Hasan di Tiro, di kediamannya di Stockholm, Swedia, tapi selalu gagal. Dalam bukunya, Farid mengakui bahwa tidak semudah itu untuk dapat menjumpai Hasan Tiro. Pertemuan Farid dengan deklarator Aceh merdeka baru berhasil terwujud empat bulan setelah Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki diteken.

Suatu hari bulan Desember 2005, Farid mendapat tugas bertemu Hasan Tiro, untuk mendiskusikan hal-hal yang sudah dicapai setelah kesepakatan damai. Selain itu, dia juga menyampaikan undangan dari Jusuf Kalla pada Hasan Tiro untuk menghadiri pertemuan segitiga antara pemerintah Indonesia, Martti Ahtisaari –mediator proses perundingan Helsinki— dan pimpinan GAM.
Farid menghubungi Malik untuk mengatur pertemuan dengan Hasan Tiro. Setelah mendapat lampu hijau, dia berangkat ke Finlandia. Bersama Juha, Farid bertolak ke Stockholm. Tiba di bandara, keduanya dijemput Malik dan sekretarisnya. Kemudian, mereka bersama menuju apartemen tempat Hasan Tiro di Norsborg, Stockholm.

Salju turun cukup deras, dan malam mulai menjelang saat mereka dalam perjalanan ke kediaman Hasan Tiro. Pikiran Farid melambung ke suatu hari akhir Agustus 2003 saat menjejak kaki di kawasan itu. Tetapi waktu itu dia tidak tahu apartemen Hasan Tiro, karena banyaknya bangunan di komplek tersebut.

Farid tidak ingat lagi Hasan Tiro tinggal di lantai berapa. Tetapi yang membesarkan hatinya, malam ketika mereka tiba di apartemen itu, Hasan Tiro turun menjemput di lobi. “Dia jemput dan antar saya ke lobi. Kata sekretarisnya, seumur-umur saya baru sekali ini ada yang begini. Semua orang Aceh menganggap saya, orang yang bisa dipercaya,” ujar Farid bangga.

Menurut sekretarisnya, tulis Farid dalam bukunya, biasanya Hasan Tiro menunggu tamunya di kamar apartemennya. “Saya dapat melihat senyum dan kegembiraan di wajah Hasan di Tiro ketika kami akhirnya berjabat tangan. Ia mengenakan setelan formal dengan jas berwarna coklat. Perawakannya kecil, tetapi wibawanya tak hilang karena itu,” kenang Farid.

Sambil mencicipi makanan kecil, dalam suasana penuh keakraban selama dua jam, mereka berdiskusi banyak hal. Hasan Tiro berulang kali menitip pesan agar kedua belah pihak memelihara perdamaian dan jangan mencederainya lagi.

“Saya bilang, saudara-saudara kita di Aceh ingin ayahandanya pulang,” tutur Farid seraya menambahkan, yang penting dalam perdamaian bersedia untuk kompromi dan harus bermartabat.

Ketika menyampaikan undangan dari Kalla untuk menghadiri pertemuan segitiga di Filandia, Hasan Tiro meminta maaf tak bisa datang karena alasan kesehatan. Sebenarnya, dia sangat ingin hadir dalam pertemuan tersebut, tetapi karena usianya sudah lanjut, dia sudah jarang keluar rumah, sebut Farid dalam bukunya.

Farid Husain menggambarkan lobi-lobi untuk meyakinkan GAM dari berbagai faksi, ibarat seorang pria yang sedang merayu belahan jiwanya. “Ini seperti orang pacaran. Kita tidak bisa main paksa,” katanya sambil tersenyum-senyum. [a]

Jumat, Juni 05, 2009

Istimewa Lebaran Bareng Upin dan Ipin

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

Selain kocak, serial Upin dan Ipin bisa dijadikan film edukasi bagi anak-anak.

PERBINCANGAN itu terjadi di meja makan usai pengumuman datangnya bulan suci Ramadan. “Kalian berdua pun kena puase,” kata Opah.

“Hah, puase?” sergah Upin, terkejut. Tangannya berusaha menyentuh adik kembarnya, Ipin, yang lahap menyantap paha ayam goreng. Seketika, Ipin berujar, “Oh, boleh-boleh, boleh.” Dia terus melahap ayam goreng kesukaannya. Sementara Upin, masih bingung mendengar pernyataan Opah.

“Puase itu apa, Opah?” tanya Upin.

Dengan sabar, Opah menjelaskan pengertian puasa. Namun, Ipin terkejut saat Opah menyebutkan bahwa puasa tidak boleh makan dan minum mulai dari fajar sampai magrib.

“Hah, tak boleh makan?” sergah Ipin, masih dengan ayam goreng di tangannya. “Matilaaah,” lanjut Ipin.

Perbincangan di meja makan terus berlanjut. Upin belum puas dengan penjelasan yang diberikan Opah dan Kak Roes, kakaknya. Upin dengan lugunya lantas bertanya kenapa mereka harus berpuasa. Sekali lagi, Opah dengan bijak menjelaskan bahwa orang Islam diharuskan berpuasa di bulan suci Ramadan untuk menunaikan perintah Allah.

“Berpuasa itu Tuhan suruh, supaya kita tahu bagaimana rasanya orang miskin dan mereka yang kelaparan,” kata Opah.

Tak puas, Upin protes. Menurut Upin, mereka belum wajib berpuasa karena masih kecil. “Iyalah, kecil-kecil haruslah belajar puase,” jawab Opah.

Perbincangan tadi merupakan adegan dalam film animasi tiga dimensi, Upin dan Ipin, yang diproduksi Les’ Copaque, Malaysia. Pada bulan Ramadan ini, film animasi itu ditayangkan saban Jumat, Sabtu, dan Minggu di TV9.

Upin dan Ipin adalah serial animasi yang bercerita tentang kakak-beradik kembar berusia lima tahun. Ini pengalaman pertama mereka melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ceritanya disajikan sederhana dalam bentuk komik dengan nuansa kocak.

Dalam film 12 episode itu, Opah (dialihsuarakan oleh Hajjah Ainon) dan Ros (Ida Shaheera) memberikan petuah dan nasihat kepada Upin dan Ipin (Nur Fathiah). Nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan Opah dan Kak Ros dalam film ini sangat mudah dimengerti anak-anak. Adegan dan dialog disajikan dengan kocak dan sederhana. Selain bercerita soal puasa, film Upin dan Ipin juga menyampaikan pesan-pesan edukasi dan nilai moral kepada anak-anak.

Pesan sosial, agama, dan moral yang disampaikan Upin dan Ipin sangat kaya. Dalam hampir semua scene, Opah dan Kak Ros memberi nasihat kepada dua kakak-beradik kembar ini. Lihat saja misalnya saat Fizi mencoba mempengaruhi Upin dan Ipin. Saat itu, Fizi bilang bahwa dirinya mendapat satu ringgit dari puasa setengah hari yang dilakoninya.

Mendengar “provokasi” Fizi, Upin dan Ipin seakan hendak mengajukan protes pada Opah. “Opah. Kawan Upin kan, dia puase satu hari dapat seringgit... Jadi Opah, pahamlah Opah,” kata Upin, malu-malu. “Tapi kata kawan Ipin, dia puasa setengah hari ke. Boleh ke Opah?” timpal Ipin.

Kesempatan ini digunakan Opah untuk menjelaskan bahwa puasa dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap pemberian uang. Boleh-boleh saja, kata Opah, anak-anak semisal Upin dan Ipin berpuasa setengah hari. Tapi apa salahnya belajar untuk berpuasa sehari penuh. Penjelasan Opah ini membuat dua kakak-beradik yang lugu ini merasa malu dan akhirnya mereka bertekad untuk berpuasa penuh selama sebulan Ramadan.

Atau misalnya, saat Upin, Ipin, Mei Mei, dan Rajoo –empat bocah berbeda etnis dan agama—bermain di halaman rumah Opah. Usai bermain, Upin dan Ipin kelelahan. Rajoo (Kannan) yang kalah, mengajak Upin dan Ipin untuk membeli minuman dan makanan. Hampir saja dua kakak-beradik ini terbujuk ajakan Rajoo, sebelum akhirnya dicegah Mei Mei (Yap Ee Jean).

“Hei, kamu berdua kan puasa?” sergah Mei Mei, teman Upin dan Ipin yang beretnis Tionghoa.

Seketika Upin dan Ipin mengangguk.

“Alah, tak ape, orang tak tau,” kata Rajoo, keturunan India.

“Betol, betol, betol,” angguk Ipin, dengan gaya khasnya.

“Tak boleh, yu punya Tuhan tau. Nanti ya, yu punya Tuhan malah, mana boleh main-main,” kata Mei Mei, dalam logat Tionghoa yang kental.

Rajoo, Upin dan Ipin pun akhirnya membatalkan niat mereka membeli minuman.

***

FILM Upin dan Ipin ini sarat dengan nilai edukasi, sehingga layak menjadi hadiah bagi putra-putri Anda saat bulan Ramadan dan Idul Fitri. Les’ Copaque Production merampungkan produksi film animasi Upin dan Ipin pada Agustus 2007. Sebulan kemudian, film ini diputar di Channel 9, satu televisi swasta Malaysia.

Film ini mendapat sambutan hangat dari publik Malaysia. Tak hanya berjaya di negaranya, film ini melebarkan sayap di negeri jiran, Indonesia. Ramadan tahun lalu, Upin dan Ipin menyapa penonton TVRI. Namun Ramadan tahun ini, Upin menyapa penikmat TPI. Bahkan di Banda Aceh, Upin dan Ipin dijual bebas penjual cakram padat bajakan di pinggir jalan. Tak hanya itu, Upin dan Ipin juga dengan mudah bisa diunduh di Internet, termasuk situs resminya. Les’ Copaque juga sudah memproduksi Upin dan Ipin dalam versi bahasa Turki.

Direktur Kreatif dan Pemasaran Les’ Copaque Mohd Nizam Abdul Razak yakin animasi Upin dan Ipin yang mengangkat nilai tradisi dan budaya Malaysia akan mendapat sambutan hangat dari publik, tak hanya di Malaysia tapi juga bagi penyuka film animasi di belahan dunia.

“Serial film animasi terkenal, seperti animasi Doraemon dari Jepang, semuanya mengangkat tema budaya lokal, ketimbang budaya internasional. Kami percaya bisa melakukan hal yang sama dengan karya kami,” kata Mohd Nizam seperti dikutip In.Tech.

Nizam tak sesumbar. Selepas dirilis dan ditayangkan di TV9, serial Upin dan Ipin memperoleh penghargaan Film Animasi Terbaik pada Kuala Lumpur International Film Festival 2007. Sukses dengan Upin dan Ipin I, Les’ Copaque merilis Upin dan Ipin Season Dua: Setahun Kemudian. Film kedua ini diproduksi dalam enam episode, masing-masing berdurasi lima menit.

Sesi ini mengisahkan Upin dan Ipin telah duduk di bangku sekolah dasar. Lagi-lagi, tema besar yang diangkat soal pengalaman puasa dua anak kembar ini. Di beberapa bagian, Les’ Copaque menyisip tema soal budaya Malaysia, seperti pada Episode 9 yang berjudul Adat.

“Kami akan meningkatkan staf menjadi 100 orang akhir tahun ini, karena kami akan mengerjakan animasi ‘Pada Zaman Dahulu’ dan merampungkan keseluruhan 52 serial Upin dan Ipin,” kata Nizam. Sukses Upin dan Ipin juga membuat rumah produksi Les’ Copaque merilis animasi “Geng: Sebuah Petualangan”. Pemeran utama tetap si bocah kembar lugu: Upin dan Ipin, Kak Ros, dan teman-teman mereka.

Pembuatan animasi tiga dimensi Upin dan Ipin terinspirasi film animasi Toy Story yang diproduksi Disney-Pixar pada 1995 silam. “Ini benar-benar menginspirasi kami karena diproduksi saat tidak ada orang yang percaya tentang film animasi tiga dimensi,” kata Safwan, tim kreatif Les’ Copaque.

Penghargaan yang diperoleh film Upin dan Ipin mendongkrak reputasi rumah produksi Les’ Copaque. “Kami memulai film berdurasi pendek ini tahun lalu sebagai tes penerimaan pasar lokal dan untuk mengukur bagaimana reaksi terhadap kemampuan cara bercerita kami,” tambah Safwan.

Managing Director Les’ Copaque Burhanuddin Md. Radzi mengatakan, sambutan publik Malaysia terhadap Upin dan Ipin luar biasa. “Bagus sekali, karena anak di sini maupun di Indonesia merindukan animasi yang bisa mereka pahami dan menceritakan kehidupan mereka sehari-hari,” kata Burhanuddin kepada ACEHKINI.

Respon pasar ini membuat Les’ Copaque akan memproduksi Upin dan Ipin sebanyak 52 episode. Pada lebaran pertama ini, Upin dan Ipin episode 13 sampai 18 akan kembali diluncurkan.

Serial Upin dan Ipin memberi nuansa baru dalam dunia film animasi Melayu. Apalagi, temanya tidak mengekor sukses film animasi versi Nickelodeon atau Disney, yang sebenarnya tak pantas ditonton anak-anak. Film animasi Nick dan Disney kebanyakan mengangkat soal kekerasan, perkelahian, dan bahkan disajikan dengan bahasa yang sama sekali tak mendidik. Dan Upin & Ipin menyuguhkan warna lain: toleransi dan sarat pesan moral. [a]

Jumat, Januari 09, 2009

Balas Budi Ranger Gerilyawan

Oleh FAKHRURRADZIE GADE,
ACEHKINI Writer

Dari kejauhan raungan sinsaw terdengar silih berganti. Perlahan M Nasir CM, Abdullah, dan Bakhtiar mendekati sumber suara. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang digunakan para penebang liar untuk mengangkut kayu. Saat sudah mendekati sumber suara sinsaw, mereka berhenti. Mengendap. Setelah memastikan asal suara, mereka kembali menyusuri tebing gunung yang dipenuhi kayu bekas perambahan hutan. Dengan sigap mereka menerobos ranting dan dahan kayu. Tak berapa lama, pengendapan membuahkan hasil: aha, dua penebang kayu berhasil “diamankan.”

Amiruddin dan Feri nama para penebang liar tadi. Mereka menebang kayu di Bukit Lalang, Desa Alue Teh, Kecamatan Birem Bayeuen, Aceh Timur. Menebang kayu di Bukit Lalang sebenarnya sangat berbahaya. Pasalnya, pegunungan Bukit Lalang-lah yang selama ini menjadi penyangga serapan air bagi hulu Sungai Langsa.

Bukan kali ini saja Amiruddin dan Feri ikut menggunduli hutan di kawasan Bukit Lalang. Sebelumnya, mereka juga pernah menebang kayu di sini dengan alasan untuk pembukaan lahan. Saat tim yang dipimpin Nasir menyergap, Amiruddin tengah sibuk membelah kayu jenis Sembarang.

Pemuda kelahiran 32 tahun silam ini menjadi penebang kayu sejak enam tahun silam. Usai menamatkan pendidikan di SMA Seureuway, Aceh Tamiang, Amiruddin memilih bekerja sebagai penebang kayu. Mulanya dia hanya menjadi kernet. Pengalaman menempanya untuk pandai mengendalikan sinsaw yang beratnya mencapai 25 kilogram. Sebelumnya, Amiruddin bekerja di PT Guruti. Hanya sebentar di sana, dia harus menganggur. Pasalnya, PT Guruti tutup dan merumahkan semua karyawannya.

Bermain kayu memang menggiurkan. Kayu bisa menjadi pundi-pundi rupiah. “Dalam satu ton kayu yang saya belah, saya dapat satu juta rupiah,” kata Amiruddin. Saat ketangkap basah tim yang dipimpin Nasir, Amiruddin sedang menggunduli hutan atas suruhan Najib, warga Alue Teh. “Pak Najib mau buka lahan,” kata warga Lorong IV itu.
Amir tak sendiri merambah hutan Bukit Lalang. Tak berapa jauh dari lokasi Amir menebang kayu, Suparman, warga Alue Teh, menari-narikan sinsaw-nya di atas kayu berukuran besar. Dia hanya seorang diri. Parman mengaku menebang kayu untuk kebutuhan pembangunan rumahnya. “Saya hanya menebang untuk keperluan material rumah,” ujarnya lugu saat disidak ranger Tim Monitoring Mitra Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), pertengahan Juni silam.

Lagi-lagi, pembukaan lahan menjadi alasan para penebang liar menggunduli hutan Alue Teh. Penebangan hutan di sana melibatkan banyak kalangan: polisi, tentara, perangkat desa, warga, hingga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Saat tim BPKEL menginspeksi kawasan itu, para penebang mengaku bahwa mereka menebang kayu karena telah mendapat restu dari aparat. Solihin, warga Lorong I, menurunkan 37 lembar papan berdiameter lima inci dengan menggunakan kombeck: mobil off roader jenis hardtop.

Solihin mengaku kayu itu pesanan Husni, anggota polisi yang bertugas di Polres Langsa. “Ini kayu bapak Husni. Kalau ada apa-apa dengan kayu ini, saya diminta melapor ke dia,” kata Solihin kepada tim BPKEL.

Sore itu, Sabtu (14/6), tim BPKEL yang dipimpin Ivo Lestari dan Teungku Nasir CM berhasil menangkap satu unit kombeck sarat muatan kayu yang hendak dilansir ke perkampungan penduduk. Sayang, baru dibawa sekitar seratus meter dari lahan penebangan liar, kombeck yang dikemudikan Sunardi kepergok tim BPKEL. Mobil kombeck milik Kepala Desa Alue Teh ini –berserta kayunya—digelandang ke Markas Kepolisian Sektor Birem Bayeun. Empat penebangnya juga dimintai keterangan dan ditahan di Mapolsek itu.

“Saya berani main kayu karena Bapak Husni katanya mau bertanggungjawab. Dia bilang, kalau ada masalah dengan kayu ini panggil dia,” kata Solihin.

Husni memesan tiga ton kayu jenis Sembarang pada Solihin. Pada awalnya Solihin ogah meladeni permintaan Husni, yang disampaikan melalui Sarno –orang kepercayaan Husni. “Saya sudah bilang ke Sarno kalau saya tidak sanggup memenuhi ordernya. Tapi dia bilang, kalau ada masalah bilang saja ke Pak Husni,” ujar Solihin, 28 tahun.
Solihin bukannya tak tahu kalau Pemerintah Aceh telah mengeluarkan kebijakan moratorium logging atau jeda tebang hutan. Tapi fulus yang diraup dari bermain kayu menggodanya. “Saya tahu ini dilarang,” katanya pelan.

Kapolsek Birem Bayeun Inspektur Satu Eliadi mengaku sering berburu para penebang liar. Tapi sejak dua tahun lalu bertugas di sana, belum satu penebang pun berhasil ditangkapnya. Saat tim BPKEL menangkap Solihin beserta tiga penebang kayu lainnya, Iptu Eliadi sedang berada di rumah Kepala Desa Alue Teh. “Sebenarnya kita sering razia, tapi asal kita naik selalu bocor (informasinya),” aku Eliadi.

***

Pada Februari 2007, Pemerintah Aceh membentuk Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser untuk menjaga kawasan hutan seluas 2,6 juta hektar yang sudah terancam. Keputusan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf membentuk BP-KEL ini diikuti dengan mengeluarkan instruksi jeda tebang hutan pada 6 Juni 2007. Inilah yang kemudian dijadikan landasan BP-KEL untuk menggandeng mitra lokal untuk menjaga hutan di sejumlah kabupaten kritis.

Di Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang, BP-KEL menggandeng Mata Hate, sebuah LSM lokal yang dibentuk sejumlah mahasiswa dan aktivis sipil. Belakangan, empat bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yaitu Muhammad Nasir C.M., Abdullah, Bakhtiar, dan Ramli Abbas, bergabung menjadi relawan penjaga hutan. Mereka disebut ranger!
Keinginan bergabung menjadi penjaga hutan merupakan panggilan nurani. Bakhtiar, seorang ranger, mengaku sudah saatnya mereka terlibat dalam menjaga kelestarian hutan Aceh dari tangan-tangan jahil para cukong dan penebang liar. Apalagi, selama bertahun-tahun Bakhtiar bergerilya di pegunungan Aceh Timur dan Langsa. “Kita ingin hutan Aceh tetap lestari,” kata Nasir.

Masih segar dalam ingatan Nasir cs pada Desember 2006, dua tahun setelah tsunami menghumbalang Aceh, banjir bandang menerjang Aceh Tamiang. Sedikitnya 72 warga tewas dan lebih 120 ribu warga mengungsi akibat banjir besar tersebut. Ribuan kubik kayu log hasil penebangan liar diangkut air menerobos permukiman warga, menjadi malapetaka yang menenggelamkan perkampungan.

Tak mudah bagi mereka terjun sebagai penjaga hutan. Selain mereka tak digaji negara, saat terjun ke lapangan acap berhadapan dengan aparat yang membekengi aktivitas penebangan liar. Tak jarang mereka juga harus berurusan dengan mantan anggota GAM yang juga ikut menggunduli hutan. Tapi, bagi mereka, itu semua merupakan tantangan tersendiri.

Aksi mereka kerap membuat pemain kayu kelimpungan. Awal 2008 lalu, mereka memburu penebang liar di kawasan Bukit Indah, Desa Jambo Labu. Tak sia-sia, mereka berhasil menangkap lima unit kombeck dan menyita puluhan kubik kayu hasil penebangan liar yang sudah diolah menjadi papan dan balok. “Itu prestasi kami menangkap kayu ilegal,” kata Nasir.

Menurut dia, kayu-kayu itu kemudian diserahkan kepada aparat kepolisian. Sayang, kasus ini kemudian mengendap begitu saja. “Kita tidak tahu kenapa,” kata Ivo Lestari, Koordinator Mata Hate.

Pascapenangkapan kayu itu, tim Nasir cs tidak leluasa lagi bergerak di kawasan Bukit Indah. Pasalnya, wajah-wajah para penyelamat hutan ini sudah ditandai warga dan penebang liar. Upaya ACEHKINI dan Nasir cs menelusuri jejak penebang liar di Bukit Indah, pertengahan Juni lalu, gagal meski dilakukan malam hari. Pasalnya, keberadaan tim yang naik ke Bukit Indah sudah terlebih dahulu diketahui para penebang liar. “Mereka memakai mata-mata di sepanjang jalan yang kita lalui,” kata Nasir.

Untuk menyiasati pengendusan mereka tidak diketahui penebang liar, biasanya Nasir cs menyamar. Kadang-kadang mereka berkedok sebagai pengusaha yang mau membeli lahan untuk perkebunan sawit atau karet. “Biar mereka tidak curiga,” kata Nasir.
Sayang, kerja keras para penjaga hutan ini tak mendapat perhatian cukup dari pemerintah. Menurut Ivo Lestari, mereka tidak mempunyai biaya operasional saat beroperasi mengendus penebang liar. Selama ini, kata Ivo, para ranger bekerja tanpa pamrih. “Utang mereka sudah menumpuk. Paling banyak utang di bengkel, karena mereka harus memperbaiki sepeda motor yang rusak setelah operasi kayu,” katanya. “Mereka juga tak digaji oleh negara...”

Tetapi, Nasir, Abdullah, Bakhtiar, dan Ramli Abbas tetap pada tekad agar hutan Aceh terjaga untuk menyangga bumi tak lagi murka. Hitung-hitung, ini adalah balas budi terhadap hutan yang telah menjaga mereka selama bergerilya di masa perang. [a]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting